SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
News
Beranda / News / Dewan Pakar BPIP Nilai Prabowo Hidupkan Kembali Bandung Spirit di KTT BRICS

Dewan Pakar BPIP Nilai Prabowo Hidupkan Kembali Bandung Spirit di KTT BRICS

Bandung Spirit Ktt Brics Prabowo 2026
Presiden Prabowo Subianto dalam agenda KTT BRICS 2026 di New Delhi, India, yang dinilai Dewan Pakar BPIP Darmansjah Djumala menjadi momentum menghidupkan kembali Bandung Spirit.

FWPJABAR.COM, JAKARTA — Semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 kembali mendapat sorotan dalam forum internasional. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di New Delhi, India, pada 12–13 September 2026, dinilai mencerminkan upaya menghidupkan kembali Bandung Spirit dalam menghadapi dinamika politik global.

Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, menilai gagasan Bandung Spirit masih memiliki relevansi kuat di tengah kondisi dunia yang diwarnai ketegangan geopolitik, polarisasi, hingga kesenjangan dalam hubungan antarnegara.

Berbagi Kebahagiaan di HUT ke-81 TNI, Kodiklatad Gandeng Seribu Pengemudi Ojol di Bandung

“Pernyataan Presiden Prabowo di KTT BRICS dapat dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali Bandung Spirit. Warisan diplomasi Indonesia itu perlu digaungkan kembali di tengah situasi dunia yang semakin terbelah,” kata Djumala dalam keterangan tertulis, Senin (15/9/2026).

Menurut Djumala, semangat yang lahir dari KAA 1955 pada dasarnya merupakan respons negara-negara Asia dan Afrika terhadap situasi dunia saat itu. Negara-negara yang baru merdeka berupaya membangun posisi yang lebih setara setelah lama berada dalam tekanan kolonialisme.

Penguatan Ketahanan Ideologis: Tanggapan BPIP Terhadap Pidato Menlu Sugiono di PBB

Kondisi tersebut juga mendorong negara-negara berkembang untuk memperkuat solidaritas. Sebab, apabila masing-masing negara menyuarakan kepentingannya secara sendiri-sendiri, pengaruhnya di tingkat global akan relatif terbatas.

Sebaliknya, kerja sama dan persatuan antarnegeri berkembang dapat menciptakan kekuatan politik yang lebih besar dan membuat aspirasi mereka diperhitungkan dalam forum internasional.

Aksi Nyata di Bandung! Warga dan Prajurit Lanud Sulaiman Kompak Bersihkan Saluran Air Sambut HUT ke-81 TNI

Djumala, yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk Austria dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyebut kesetaraan, solidaritas, kemandirian, penghormatan terhadap kedaulatan, serta penolakan terhadap dominasi merupakan sejumlah nilai utama dalam Bandung Spirit.

“Bandung Spirit mengandung pesan bahwa setiap bangsa berhak menentukan masa depannya sendiri dan memiliki kedudukan yang setara dalam tata dunia,” ujarnya.

Relevansi Bandung Spirit dengan Global South

Djumala melihat adanya keterkaitan antara semangat KAA 1955 dengan meningkatnya aspirasi negara-negara Global South saat ini. BRICS menjadi salah satu wadah yang mencerminkan dorongan negara-negara berkembang untuk memperkuat posisi dan memperluas kerja sama dalam tata hubungan internasional.

Letjen TNI Iwan Setiawan Pimpin Laporan Korps Kenaikan Pangkat Personel Pussenif Periode Oktober 2026

Meski memiliki latar belakang geopolitik yang berbeda, menurut dia, KAA dan dinamika Global South sama-sama memiliki kepentingan untuk mendorong keseimbangan pengaruh dalam hubungan internasional.

Mengenang H. Rudi Agus Mulyana: Sosok Penghubung Komunikasi Antara Jurnalis Polda Jabar dan Kepolisian

Jika pada 1955 negara-negara Asia dan Afrika berhadapan dengan kolonialisme serta persaingan Perang Dingin, tantangan negara-negara berkembang saat ini bergeser pada persoalan ketimpangan ekonomi, keterbatasan representasi dalam tata kelola global, dan distribusi pengaruh politik yang belum sepenuhnya seimbang.

“Bandung 1955 telah membuktikan bahwa ketika negara-negara berkembang bersatu, suara mereka dapat didengar di forum dunia seperti PBB,” kata Djumala.

Atas dasar itu, keterlibatan Indonesia dalam BRICS dan berbagai forum yang mempertemukan negara-negara Global South dapat dipandang sebagai bagian dari kesinambungan tradisi diplomasi Indonesia.

Sinergi TNI-Polri: Pangdam III/Siliwangi Beberkan Strategi Pertahanan dan Program Teritorial kepada Peserta Sespimti

Namun, Djumala menegaskan bahwa menghidupkan kembali Bandung Spirit bukan berarti mengulang kondisi atau agenda yang sama seperti tujuh dekade lalu.

Dorong Konferensi Asia Afrika Jilid Kedua

Menurut Djumala, tantangan terbesar saat ini adalah menerjemahkan nilai-nilai Bandung ke dalam persoalan dunia modern. Karena itu, penyebutan Bandung Spirit oleh Presiden Prabowo di forum BRICS dinilai perlu dikembangkan menjadi agenda strategis.

Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah menggelar Konferensi Asia Afrika ke-2. Forum tersebut dapat menjadi momentum untuk memperbarui agenda dan memperkuat kembali nilai Bandung Spirit agar sesuai dengan persoalan global abad ke-21.

“Pernyataan Presiden Prabowo tentang Bandung Spirit di BRICS patut ditindaklanjuti sebagai gagasan strategis, bukan berhenti sebagai nostalgia sejarah,” ujar Djumala.

Ia menambahkan, revitalisasi Bandung Spirit juga sejalan dengan arah politik luar negeri Indonesia yang menempatkan perdamaian, kemerdekaan, kedaulatan, dan keadilan sebagai prinsip penting dalam hubungan internasional.

Dari perspektif pembinaan ideologi Pancasila, nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan prinsip kemanusiaan, persatuan, kedaulatan rakyat, serta keadilan sosial.

Dengan demikian, Bandung Spirit tidak hanya relevan sebagai warisan sejarah diplomasi Indonesia. Semangat tersebut juga dapat dikembangkan menjadi gagasan dalam merespons perubahan konfigurasi kekuatan dan tata dunia saat ini.

“Yang dibutuhkan sekarang bukan mengulang Bandung 1955, melainkan menghadirkan kembali semangatnya untuk menjawab persoalan dunia abad ke-21,” pungkas Djumala.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Dance Motion 2026

Berita Populer Bulan Ini

Pilihan Editor

×
×