FWPJABAR.COM, BANDUNG – Menolak pasif di usia senja, kelompok musik angklung bentukan para pensiunan lembaga penyiaran publik, D’Angklungers, sukses menyajikan performa memukau. Kelompok yang digawangi oleh para purna bakti TVRI Jakarta ini tampil memikat para pengunjung di destinasi wisata budaya legendaris, Saung Angklung Udjo, Bandung, pada Minggu (26/7/2026).
D’Angklungers sendiri diinisiasi dan didirikan oleh para alumni atau purna bakti TVRI Jakarta angkatan tahun 1975. Hingga saat ini, komunitas tersebut telah merangkul sekitar 40 anggota tetap. Kendati demikian, pada performa khusus di panggung Saung Angklung Udjo kali ini, tercatat sebanyak 30-an personel yang hadir langsung menggetarkan bambu bernada tersebut.

Ketua D’Angklungers, Ibu Itje Pradata menyatakan bahwa pendirian wadah seni ini berawal dari keinginan kolektif agar masa pensiun tetap diisi dengan kegiatan produktif. Selain sebagai media aktualisasi diri, bermusik juga diarahkan untuk memperpanjang kebermanfaatan sosial sekaligus melestarikan budaya bangsa.
“Harapan kami dari D’Angklungers, awalnya kita dari pensiunan ya, harapannya supaya pensiunan tetap berkarya, tetap bermanfaat, tetap menjadi panutan bagi lingkungan, dan melestarikan budaya bangsa, terutama Angklung ini. Tentu saja, cita-cita D’Angklungers adalah semakin jauh melangkah, semakin dikenal, semakin banyak negara-negara yang bisa kita kunjungi,” ujar Ibu Itje saat diwawancarai di lokasi.
Lebih lanjut, Ibu Itje memaparkan bahwa bermain angklung memiliki dampak medis yang signifikan bagi para lanjut usia (lansia). Seni musik tradisional ini menuntut fokus yang tinggi, ketenangan batin, serta penyelarasan pikiran yang intensif. Hal-hal tersebut dinilai efektif sebagai terapi untuk memperlambat kepikunan (demensia).
“Mencintai Angklung itu nggak mudah lho, kelihatannya sepele ya, tapi perlu konsentrasi, ketenangan, pikiran, dan satu lagi, Angklung bisa memperlambat kepikunan. Tetap sehat, karena lansia sehat, keluarga sehat,” tambahnya.

Kuasai Metode Hand Sign dan Targetkan Rekor Muri Ketiga
Di tempat yang sama, Sang Pelatih (Coach) D’Angklungers, Kang Daus, menjelaskan mekanisme teknis di balik kekompakan ibu-ibu lansia tersebut. Untuk mempersiapkan penampilan di Saung Angklung Udjo, timnya menggelar latihan intensif sebanyak empat kali dengan intensitas satu minggu sekali.
Dalam mengarahkan pemain, Kang Daus menerapkan metode isyarat tangan atau hand sign. Melalui sistem instruksi visual ini, para personel hanya perlu menghapal barisan kode tangan yang diberikan pelatih untuk kemudian menggetarkan angklung sesuai ketukan dan nada.
“Jadi yang diajarkan ibu-ibu di sini adalah metode hand sign. Jadi saya menggunakan tangan, ibu-ibu tinggal mengikuti dan menghapalkan metode yang sudah diberikan, lalu mereka membunyikannya sesuai dengan arahan. Jadi mereka hanya menghapalkan kode-kode yang sudah diberikan dan menggetarkannya,” tutur Kang Daus.
Jejak rekam D’Angklungers di panggung pertunjukan nasional terbilang sangat solid. Komunitas purna bakti TVRI Jakarta ini tercatat pernah berkolaborasi dan menggelar konser bersama para mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta siswa SMK Musik Perguruan Cikini Jakarta di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta.
Tak hanya itu, mereka juga telah mengantongi dua penghargaan Rekor Muri. Rekor pertama diraih pada ajang Angklung Lansia Terbanyak di Pakuwon Mall Bekasi, sementara rekor kedua didapatkan lewat kategori Angklung Estafet Terpanjang di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Di ranah internal, mereka juga aktif mengisi perayaan hari besar seperti Halalbihalal dan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus.
Menatap agenda ke depan, Kang Daus membocorkan bahwa D’Angklungers kini tengah bersiap mengambil bagian dalam misi besar pemecahan Rekor Muri ketiga mereka. Misi tersebut akan dikemas dalam bentuk agenda roadshow seni dari mal ke mal secara maraton selama 31 hari penuh, sebagai langkah konkret dalam melestarikan budaya Jawa Barat khususnya Angklung.***


Komentar