FWPJABAR.COM, JAKARTA – Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) menyerukan aksi nyata yang mendesak untuk membangun sistem deteksi dini kanker kolorektal (kanker usus besar) yang terintegrasi di tanah air. Langkah strategis ini mengemuka dalam perhelatan The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 bertajuk “Colorectal Cancer Screening and Management: Bridging Gaps for Early Detection and Better Outcomes” yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Kanker kolorektal kini menjadi ancaman serius dalam dunia onkologi global maupun domestik dengan mencatatkan 1,9 juta kasus baru di dunia setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, jenis kanker ini menduduki peringkat keempat dalam temuan kasus baru dan menjadi pemicu kematian tertinggi kelima akibat kanker, dengan merenggut lebih dari 19 ribu jiwa per tahun. Minimnya kesadaran mendeteksi gejala awal—seperti diare kronis, feses berdarah, kram perut, penurunan berat badan drastis, serta anemia—membuat mayoritas pasien baru memeriksakan diri saat stadium lanjut.
Ketua Pengurus Besar PGI, Prof. DR Dr. Ari Fahrial Syam, MMB, FACP, FACG, menegaskan bahwa lembaganya tidak sekadar menjadi wadah akademis, melainkan motor penggerak transformasi regulasi kesehatan.
“Kami berkomitmen penuh untuk terus bersinergi dengan Kementerian Kesehatan dan jaringan pakar internasional demi menghadirkan program skrining kanker kolorektal yang merata, berkelanjutan, dan mampu menyelamatkan lebih banyak jiwa di Indonesia,” ujar Prof. Ari.
Belajar dari Keberhasilan Skrining Jepang dan Taiwan
Forum internasional ini menghadirkan jajaran pakar dunia untuk merumuskan cetak biru regulasi berbasis bukti di Indonesia. Salah satunya adalah Prof. Takahisa Matsuda, MD, PhD, selaku President The Japanese Society of Gastrointestinal Cancer Screening. Ia menjelaskan bahwa Jepang sukses menekan fatalitas kanker usus melalui pemeriksaan berkala menggunakan metode Fecal Immunochemical Test (FIT) untuk warga berusia di atas 40 tahun.
“Metode FIT sangat ideal karena berbiaya rendah, non-invasif, dan skalabel. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan pasien dengan hasil FIT positif mau melanjutkan ke tahap kolonoskopi diagnostik. Di Jepang, sekitar 30 persen pasien mengabaikan tahapan lanjutan ini, dan tantangan serupa diprediksi akan dihadapi oleh Indonesia,” ungkap Prof. Matsuda.
Sementara itu, Prof. Han-Mo Chiu, MD, PhD, dari National Taiwan University & Hospital, membagikan kesuksesan Taiwan yang menerapkan program FIT dua tahunan sejak 2004. Intervensi sistemik ini sukses menurunkan angka kematian akibat kanker kolorektal hingga 35 persen dan memangkas temuan kasus stadium lanjut sebesar 29 persen. Sejak 2025, Taiwan bahkan memajukan batas usia skrining menjadi 45 tahun menyusul lonjakan kasus early-onset CRC (kanker usia muda).
“Keberhasilan ini bertumpu pada manajemen sistem yang solid, mulai dari sistem call-recall, standardisasi rekam patologi, hingga pengawasan ketat terhadap indikator mutu kolonoskopi seperti Adenoma Detection Rate (ADR),” jelas Prof. Chiu.

Strategi Bertahap untuk Geografi Indonesia
Menilik kondisi domestik, Kepala Human Cancer Research Centre (HCRC) IMERI FKUI, Prof. DR Dr. Murdani Abdullah, FACG, FASGE, mengungkapkan bahwa data Global Cancer Observatory menunjukkan prevalensi 5 tahun kanker kolorektal di Indonesia menembus 104.235 kasus. Angka ini setara dengan 37,3 per 100 ribu penduduk.
Tantangan terbesar Indonesia terletak pada ketimpangan antara jumlah penduduk sebesar 281 juta jiwa yang tersebar di ribuan pulau dengan kapasitas fasilitas kolonoskopi yang sangat terbatas. Oleh sebab itu, Prof. Murdani menawarkan peta jalan taktis yang adaptif.
“Solusinya harus dilakukan secara gradual. Kita bisa memulai dari proyek percontohan FIT di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), memusatkan layanan kolonoskopi di RSUD kabupaten/kota, serta memperkuat rujukan berbasis digital. Implementasi stratifikasi risiko pasien berdasarkan umur, rekam medis keluarga, indeks massa tubuh, dan kebiasaan merokok menjadi kunci utama agar pemanfaatan fasilitas kolonoskopi yang terbatas bisa tepat sasaran,” urai Prof. Murdani.
5 Rekomendasi Mutakhir Panel Pakar
Dipandu oleh moderator Dr. dr. Hasan Maulahela, SpPD, K-GEH, FACG, diskusi panel tersebut menghasilkan lima rumusan mendesak bagi pemangku kebijakan kesehatan di Indonesia:
- Penerapan FIT Terstruktur Secara Bertahap: Memulai implementasi di wilayah pilot project yang didukung sistem rujukan yang transparan.
- Standardisasi Mutu Kolonoskopi: Mewajibkan faskes menerapkan indikator kualitas klinis yang ketat, termasuk Cecal Intubation Rate dan Adenoma Detection Rate (ADR).
- Integrasi Data Melalui Registri Nasional: Membangun basis data tunggal yang menghubungkan histori skrining, hasil uji FIT, tindakan kolonoskopi, hingga rekam medis akhir pasien.
- Edukasi Publik Skala Besar: Memanfaatkan ekosistem digital untuk meruntuhkan stigma takut dan ketidaktahuan masyarakat terhadap prosedur pemeriksaan usus.
- Sistem Stratifikasi Risiko: Mengadopsi sistem penilaian skor risiko (seperti 8-point scoring model dari Jepang) guna menyaring pasien prioritas tinggi.***


Komentar