FWPJABAR.COM, BANDUNG – Di tengah hantaman berbagai godaan zaman modern mulai dari perbuatan syirik, bidah, hingga maksiat yang kian terbuka, konsistensi umat dalam memegang teguh ajaran agama menjadi tantangan berat. Merespons fenomena tersebut, Majelis Taklim (MT) Al-Jabbar 86 menggelar kajian rutin bulanan pada Sabtu (25/7/2026) dengan fokus utama untuk mengagungkan sunah nabi.
Kajian rohani yang berlangsung khidmat dan sejuk di Dago Resort Bandung ini, menghadirkan ulama terkemuka, Ustadz Abu Haidar As Sundawy, sebagai pemateri utama. Selain dihadiri oleh para anggota rutin majelis taklim, acara ini juga dipadati oleh ratusan santri binaan dari berbagai pondok pesantren se-Bandung Raya.
Dalam ceramahnya, Ustadz Abu Haidar membedah secara mendalam makna komprehensif dari sunah. Beliau menjelaskan bahwa langkah mengagungkan sunah nabi bukan sekadar memahami istilah fikih yang merujuk pada amalan anjuran (mandub)—yakni jika dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan tidak berdosa.
Lebih luas, secara substansi, sunah merupakan pengejawantahan langsung dari kalimat syahadat yang mencakup seluruh ucapan, perbuatan, ketetapan, persetujuan, hingga sifat fisik dan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Salah satu contoh mutlak pengaplikasian syahadat ini tercermin dalam bagaimana umat mendirikan ibadah shalat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari).

Kunci Istiqomah di Tengah Pluralisme: Jangan Jauhi Majelis Ilmu
Ditemui dalam sesi wawancara khusus mengenai cara menjaga konsistensi dan keistiqomahan dalam menjalankan sunah nabi di lingkungan masyarakat yang kian plural serta penuh distraksi, Ustadz Abu Haidar menegaskan bahwa esensi dari mengagungkan sunah nabi terletak pada kedekatan umat dengan majelis ilmu.
“Kita sekarang hidup di zaman yang luar biasa membutuhkan kesabaran dan keistikamahan. Banyak gangguan dari segala aspek. Bagaimana kita hidup di lingkungan seperti ini? Tetaplah berada di lingkungan majelis ilmu. Agar kita terterangi dan terwarnai oleh ilmu yang bersumber dari Quran dan Sunnah yang dijelaskan oleh ahlinya,” urai Ustadz Abu Haidar.
Beliau menganalogikan kebodohan terhadap agama sebagai penyakit kronis yang harus disembuhkan. Sesuai wasiat Nabi SAW, obat dari kebodohan adalah bertanya dan belajar. Ustadz Abu Haidar juga mengutip pernyataan Imam Ahmad yang menegaskan bahwa nilai mencari ilmu tidak tertandingi apabila dilandasi niat yang lurus, yaitu mengikis ketidaktahuan dari diri sendiri maupun orang lain.
“Ilmu ini adalah hidayah, cahaya, dan penuntun yang menyembuhkan penyakit hati. Dengan cara ini, insyaAllah kita akan tetap aman dan selamat di tengah-tengah kehidupan yang penuh godaan ini,” tambahnya.
Penuh Keberuntungan di Zaman yang Asing
Dalam pemaparannya, dipaparkan pula keutamaan-keutamaan besar bagi umat yang berkomitmen dalam mengagungkan sunah nabi. Di antaranya, ketaatan kepada Rasulullah SAW adalah manifestasi langsung dari ketaatan kepada sang pencipta. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَا اللَّهَ
“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka (bermaksiat) kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah…” (HR. Bukhari).
Ustadz Abu Haidar juga mengingatkan jemaah bahwa kecintaan kepada duniawi, keluarga, maupun materi tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sejalan dengan peringatan keras dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 24:
“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Selain terhindar dari kefasikan, konsistensi menghidupkan amalan penunjang ini akan mendatangkan kecintaan dan perlindungan khusus dari Allah SWT. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحَبْبَتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ
“…Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang dia melihat dengannya…” (HR. Bukhari).
Menghidupkan sunah juga menjadi jalan meraih ampunan atau maghfirah Allah. Sebaliknya, umat Islam dilarang keras membuka aib maksiatnya sendiri secara terang-terangan (mujaharah), karena hal itu menutup pintu pemaafan. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
“Setiap umatku akan diampuni, kecuali al-mujahirin (orang-orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan)…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bagi mereka yang kokoh dalam mengagungkan sunah nabi di tengah derasnya arus fitnah akhir zaman, pahala yang dijanjikan sangat luar biasa. Nilainya bahkan digambarkan mampu melampaui besarnya infak emas sebesar gunung Uhud yang dilakukan oleh generasi setelahnya (HR. Bukhari dan Muslim). Tantangan berat di masa depan ini pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).
Kendati terasa berat dan dipandang aneh oleh mayoritas lingkungan sekitar, Rasulullah memberikan kabar gembira berupa keberuntungan (Thuba) bagi golongan yang terasing tersebut melalui sabdanya:
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim).

Sinergi Tiga Pilar Pendidikan untuk Akhlak Bangsa
Kajian bulanan ini turut dihadiri oleh Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. Dalam pandangannya, nilai-nilai Islam merupakan rahmatan lil alamin yang membawa solusi konkret untuk moralitas bangsa.
Prof. Juntika menekankan pentingnya kolaborasi tiga pilar pendidikan untuk membangun karakter generasi muda sejak dini.
“Rumah adalah fondasi utama dan pendidikan pertama dalam membangun akhlak. Harus ada sinergi yang utuh antara pendidikan informal di rumah oleh orang tua, pendidikan formal di sekolah oleh pendidik, serta pendidikan non-formal oleh tokoh masyarakat. Nilai-nilai agama tidak boleh dipisahkan dari karakter kebangsaan kita,” papar Prof. Juntika.

Acara yang berlangsung penuh berkah ini ditutup dengan aksi sosial nyata. Member MT Al-Jabbar 86 menyerahkan bantuan paket sembako bulanan rutin kepada para santri yatim dan dhuafa binaan yang hadir dari berbagai pesanteren Se-Bandung Raya, sebagai bentuk kepedulian dan penguatan ekonomi umat di wilayah Bandung Raya.***


Komentar