FWPJABAR.COM, Bandung – SMK Negeri 2 Bandung menegaskan komitmennya dalam menyiapkan lulusan unggul melalui visi besar “Mewujudkan Generasi Waluya, Kompeten, dan Berdaya Saing Global”. Visi tersebut menjadi arah kebijakan strategis sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan vokasi, khususnya penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2026.
Konsep Generasi Waluya dirancang sebagai fondasi karakter peserta didik dengan menanamkan lima nilai utama, yakni Cageur (sehat), Bageur (berperilaku baik), Bener (jujur), Pinter (cerdas), dan Singer (cekatan). Kelima nilai ini diharapkan membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan mental.
Selain karakter, SMKN 2 Bandung juga menekankan aspek kompetensi lulusan. Kompeten dimaknai sebagai kemampuan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang relevan dengan bidang keahlian masing-masing siswa serta mampu berkembang mengikuti perubahan zaman. Sementara itu, berdaya saing global berarti memiliki kemampuan bersaing, unggul, dan berkontribusi positif dalam komunitas internasional.

Tantangan TKA 2026 Jadi Perhatian Serius
Staf Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 2 Bandung, Dian Prayoga, S.Kom, mengungkapkan bahwa secara umum tidak ada perubahan signifikan dalam jadwal pembelajaran tahun 2026. Namun, tantangan utama muncul dari penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA), (Selasa, 13/01/2026).
“Berdasarkan laporan dari Kemendikdasmen, capaian nilai TKA secara umum masih rendah. Ini menjadi tantangan yang harus kami sikapi, terutama dari sisi kurikulum dan strategi pembelajaran,” ujar Dian.
Menurutnya, SMKN 2 Bandung menyiasati tantangan tersebut dengan melakukan pemantapan pembelajaran yang terstruktur, baik secara tatap muka maupun digital, khususnya bagi siswa kelas XII yang sebagian masih menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Optimalisasi LMS dan Blended Learning
Sebagai langkah konkret, SMKN 2 Bandung mengoptimalkan Learning Management System (LMS) sekolah sebagai tulang punggung penerapan blended learning. Sistem ini memungkinkan pembelajaran tetap berjalan efektif meskipun siswa berada di lokasi yang berbeda.
“Melalui LMS, aktivitas pembelajaran disusun seperti di kelas. Materi selanjutnya tidak bisa diakses sebelum materi sebelumnya diselesaikan. Ini untuk memastikan proses belajar tetap terkontrol,” jelas Dian.
Pemanfaatan LMS juga menjadi bagian dari strategi digitalisasi pendidikan di SMKN 2 Bandung. Dengan materi yang dapat diakses kapan saja, pembelajaran di kelas diarahkan lebih fokus pada diskusi, penguatan konsep, dan pemecahan masalah.
Penguatan Industri dan Kurikulum Berbasis Kebutuhan Pasar
Dalam mendukung daya saing lulusan, SMKN 2 Bandung terus memperkuat kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Program kelas industri, Teaching Factory, serta magang guru dan siswa menjadi prioritas utama.
Beberapa jurusan bahkan tengah menjajaki perluasan kemitraan industri guna menyesuaikan kompetensi siswa dengan kebutuhan pasar kerja. Selain itu, sekolah juga menyusun Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) dan perangkat pembelajaran yang mengacu pada standar industri.
Program Prioritas 2026
Sejalan dengan visi dan misi baru yang telah disosialisasikan, SMKN 2 Bandung menetapkan sejumlah program prioritas tahun 2026, di antaranya:
- Peningkatan kompetensi lulusan melalui Teaching Factory dan Skills Paspor
- Evaluasi pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS)
- Uji kompetensi kejuruan berstandar industri dan sertifikasi bahasa asing
- Digitalisasi seluruh layanan pendidikan
- Optimalisasi peran BLUD dan partisipasi masyarakat
Dengan strategi tersebut, SMKN 2 Bandung optimistis mampu mencetak lulusan yang berkarakter mulia, kompeten di bidangnya, serta siap bersaing di tingkat global, sejalan dengan arah pembangunan sumber daya manusia Jawa Barat dan Indonesia.***
Komentar