Kota Bandung – Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, sebuah momentum untuk mengenang tragedi kelam Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI) pada 1965 yang menewaskan tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat. Peristiwa itu menjadi salah satu catatan sejarah penting, ketika ideologi komunis berusaha mengganti Pancasila sebagai dasar negara.
Tujuh jenderal yang gugur dalam peristiwa tersebut dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Mereka adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Suprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, serta Lettu Pierre Tendean.
Para pahlawan ini diculik, disiksa, dan dibunuh secara keji sebelum jasadnya ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Sejak saat itu, 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk menegaskan bahwa dasar negara tetap kokoh menghadapi ancaman ideologi lain.

Pengibaran bendera peringatan Hari Kesakitan Pancasila di SMKN 4 Kota Bandung
Hari ini, semangat itu kembali digaungkan oleh keluarga besar SMKN 4 Bandung yang melaksanakan upacara peringatan dengan khidmat. Seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan terlibat dalam upacara yang berlangsung lancar di lapangan sekolah.
Kepala SMKN 4 Bandung, Dr. H. Agus Setiawan, S.Pd., M.Si., bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, ia menegaskan pentingnya generasi muda memahami sejarah dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila adalah lima sendi yang kokoh, bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk diamalkan dalam setiap langkah. Jadilah generasi yang berintegritas, kreatif, dan berbakti pada bangsa,” ujar Agus Setiawan di hadapan peserta upacara.

Guru SMKN 4 Kota Bandung, saat mengikuti upacara peringatan Hari Kesakitan Pancasila
Upacara semakin bermakna dengan keterlibatan siswa sebagai petugas. Kelas X DKV 1 bersama Tim Ekstrakurikuler Paduan Suara bertugas dengan penuh tanggung jawab, sementara Tim Paskibra mengibarkan bendera Merah Putih dengan gagah. Kepala sekolah memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi mereka yang mencerminkan semangat gotong royong dan kedisiplinan.
Selain menekankan pentingnya sejarah, Agus juga mengingatkan relevansi Pancasila di era digital. Menurutnya, derasnya arus informasi dari media sosial dan globalisasi membuat generasi muda perlu memiliki filter nilai-nilai kebangsaan agar tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila.
“Pancasila mengajarkan toleransi, gotong royong, dan keadilan. Nilai-nilai ini sangat relevan di tengah derasnya arus informasi yang cepat, terkadang tidak akurat, dan berpotensi memecah belah,” katanya.

Salah satu siswa membacakan puisi pada peringatan Hari Kesakitan Pancasila
Lebih jauh, pihak sekolah juga menanamkan semangat persatuan melalui kegiatan-kegiatan di luar kelas. SMKN 4 Bandung secara rutin mengadakan bakti sosial, diskusi kebhinekaan, hingga lomba-lomba yang mengedepankan kerja sama. Agus menilai, cara ini efektif menanamkan pengamalan nilai Pancasila secara nyata di kalangan siswa.
Ia berpesan agar siswa tidak hanya memahami Pancasila secara teoritis, tetapi juga menjadikannya sebagai kompas dalam tindakan sehari-hari. Mulai dari menghormati perbedaan, aktif berorganisasi, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, hingga berkontribusi dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Dengan semangat Hari Kesaktian Pancasila, SMKN 4 Bandung berharap generasi muda semakin sadar bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi di atas kertas, melainkan pedoman hidup berbangsa yang harus terus dijaga. Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia pernah melewati masa kelam, namun tetap berdiri tegak karena kesaktian Pancasila yang mampu mempersatukan seluruh elemen bangsa. (FWP)***
Komentar