Artikel
Beranda / Artikel / Mengungkap Rahasia Gua Metanduno di Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara

Mengungkap Rahasia Gua Metanduno di Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara

Penelitian Gua Metanduno Prof Een Herdiani ISBI Bandung
Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., bersama tim peneliti di Kawasan Karst Liang Kabori, Gua Metanduno yang terletak di Desa Liang Kobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara

Oleh Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., Guru Besar dan Dosen ISBI Bandung

Indonesia, dengan kekayaan budaya dan sejarah yang mendalam, menyimpan berbagai peninggalan tak ternilai, salah satunya adalah lukisan gua yang terdapat di Kawasan Karst Liang Kabori, tepatnya di Gua Metanduno yang terletak di Desa Liang Kobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Lukisan-lukisan yang menghiasi dinding gua ini tidak hanya merupakan karya seni yang mempesona, tetapi juga memberikan wawasan penting mengenai kehidupan masyarakat prasejarah, nilai-nilai sosial, dan kebudayaan mereka. Melalui lukisan-lukisan ini, kita dapat melacak jejak peradaban masyarakat Muna yang telah berkembang sejak ribuan tahun yang lalu.

Pada ekspedisi tahun kedua yang difasilitasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan LPDP, tim peneliti yang terdiri atas dosen ISBI Bandung, dosen Universitas Halu Oleo dan dua peneliti Utama dari BRIN melakukan perjalanan yang penuh dengan penemuan luar biasa. Gua Metanduno, yang terletak di kawasan Liang Kabori, menjadi fokus utama kami kali ini setelah sebelumnya kami mengidentifikasi dan mengunjungi 56 gua di kawasan tersebut. Kawasan Karst Liang Kabori, yang membentang luas hingga kurang lebih 10 hektar, menyimpan banyak gua dengan nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Dari sekian banyak gua yang kami temui, Gua Metanduno menjadi fokus utama karena keberagaman lukisannya, yang mencakup sekitar 250 gambar.

Gua ini tidak hanya besar, tetapi juga memiliki daya tarik tersendiri karena banyaknya gambar binatang yang terlukis di dinding gua. Salah satu yang paling mencolok adalah lukisan sapi besar yang menggambarkan hewan tersebut dalam ukuran yang hampir menyerupai ukuran sebenarnya. Temuan ini sangat menarik, karena sapi, sebagai salah satu binatang ternak utama, telah lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Muna. Bahkan hingga saat ini, beternak sapi merupakan mata pencaharian utama bagi sebagian besar masyarakat di desa Liang Kobori.

Gua Metanduno juga merupakan gua pertama yang paling mudah dijangkau ketika memasuki kawasan Karst Liang Kabori. Letaknya yang strategis membuatnya menjadi salah satu destinasi wisata yang paling diminati oleh para pengunjung yang datang ke kawasan ini. Walaupun mudah dijangkau, lukisan-lukisan yang terdapat di dalamnya tetaplah unik dan memberikan gambaran mendalam tentang kehidupan masyarakat prasejarah yang telah lama mengandalkan binatang ternak seperti sapi. Dari sinilah kami mulai mengungkap cerita yang tersembunyi di balik setiap gambar yang terpampang di dinding gua ini.

Presiden BEM ISBI Bandung Sayangkan KDM Gubernur Jawa Barat Kerap Tidak Hadir Kala Diundang Kampus Seni dan Budaya Satu-satunya di Jabar

Menyusuri Jejak Seni di Gua Metanduno

Gua Metanduno bukanlah satu-satunya gua yang menyimpan lukisan prasejarah di kawasan Karts Liang Kabori, karena terdapat 64 lokasi lainnya yang memiliki gambar-gambar, namun lukisan yang ada di sini memiliki daya tarik tersendiri karena kemampuannya untuk memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kehidupan masyarakat Muna pada masa lalu. Sebagai situs yang kaya akan nilai sejarah, gua ini menawarkan sebuah kisah tentang bagaimana masyarakat purba menghubungkan diri mereka dengan alam dan lingkungan sekitar.

Penelitian Gua Metanduno Prof Een Herdiani ISBI Bandung

Tampak pada gambar mulut gua Metanduno yang menganga sebagai akses masuk pada gua yang cukup dalam dengan keberagaman lukisan yang menarik

Lukisan-lukisan yang ada di gua ini menggambarkan berbagai motif yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, termasuk berburu, menari, penggunaan perahu serta kuda. Beberapa gambar bahkan menunjukkan manusia yang sedang berburu binatang dengan tombak atau menggambarkan aktivitas sosial dalam bentuk tarian berpasangan. Ada pula gambar perahu yang menegaskan bahwa masyarakat pada masa itu sudah mengenal pentingnya transportasi air. Lukisan-lukisan ini tidak hanya mencerminkan aspek artistik, tetapi juga menyimpan banyak informasi tentang kebiasaan, kepercayaan, dan cara hidup masyarakat Muna pada masa prasejarah.

Motif Lukisan Gua: Cermin Kehidupan Masyarakat Muna

Aldini Lulusan ISBI Bandung Berprestasi, dari Festival Musik ASEAN-China hingga Gelar Cum Laude

Lukisan gua di Gua Metanduno tidak sekadar gambar-gambar artistik, tetapi lebih dari itu, mereka adalah saksi bisu dari kehidupan yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Melalui motif-motif yang ada, kita bisa membaca banyak aspek kehidupan masyarakat purba, seperti:

  1. Berburu: Kegiatan Utama dalam Kehidupan Masyarakat Muna
    Salah satu motif yang paling mencolok adalah adegan berburu. Lukisan ini menggambarkan manusia yang berburu binatang menggunakan tombak, dan pedang panjang atau dalam istilah bahasa Muna “karambai” atau “kabali” yang menunjukkan bahwa berburu adalah salah satu kegiatan utama yang dilakukan oleh masyarakat Muna pada masa prasejarah. Berburu tidak hanya untuk memperoleh makanan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial dan ritual. Dalam banyak kebudayaan prasejarah, berburu dianggap sebagai tindakan yang penuh makna—baik sebagai simbol kekuatan, keberanian, maupun sebagai upacara penghormatan terhadap alam.

Kegiatan berburu ini tentu saja tidak mudah. Dibutuhkan keterampilan khusus dan pengetahuan tentang alam untuk bertahan hidup. Lukisan-lukisan berburu ini bisa dilihat sebagai cara masyarakat purba untuk mengabadikan pencapaian mereka dalam berburu dan mengungkapkan rasa hormat mereka terhadap alam yang telah memberi mereka kehidupan.

  1. Tarian: Simbol Sosial dan Budaya yang Menyatukan Selain berburu, motif tarian manusia juga sering terlihat dalam lukisan-lukisan ini. Tarian yang digambarkan bisa saja merupakan simbol sosial yang menunjukkan adanya hubungan antar anggota masyarakat. Bisa jadi, tarian ini merupakan bagian dari ritual atau perayaan tertentu, di antaranya terdapat tradisi ”Mangaro” atau tarian penca orang Muna yang berasal dari Ewa Muna (Silat Muna). Tapmpak pada gambar dua penari ”Mangaro” yang menggambarkan perkelahian.
Penelitian Gua Metanduno Prof Een Herdiani ISBI Bandung

Tampak pada gambar banyak lukisan binatang seperti sapi, kuda, kambing, dengan ukuran yang cukup besar. Juga lukisan sapi atau kuda yang sedang ditunggangi saat berburu

Tarian dalam banyak kebudayaan prasejarah berfungsi sebagai cara untuk mempererat ikatan sosial dalam kelompok. Dalam konteks masyarakat Muna, tarian ini memiliki nilai penting sebagai sarana untuk menyatukan anggota komunitas, memperkuat ikatan antar sesama, serta merayakan keberhasilan atau kehidupan bersama. Lukisan-lukisan ini memperlihatkan bahwa seni, dalam bentuk tarian, memiliki peran sentral dalam kehidupan sosial masyarakat masa lalu.

  1. Kuda dan Perahu: Indikasi Kemajuan dalam Transportasi Motif lain yang ditemukan dalam lukisan gua ini adalah gambar kuda dan perahu. Penggambaran kuda bisa jadi memiliki makna yang lebih dalam selain hanya sebagai alat transportasi. Kuda sering kali dihubungkan dengan status sosial atau kekuatan dalam banyak kebudayaan, dan bisa jadi masyarakat Muna menggunakan kuda sebagai simbol status, kekuatan, atau keberhasilan dalam pertempuran.

Sementara itu, perahu menggambarkan hubungan erat masyarakat Muna dengan lingkungan perairan. Perahu juga berfungsi sebagai alat transportasi utama untuk mengakses wilayah-wilayah yang lebih jauh atau bahkan sebagai sarana untuk berdagang dan berinteraksi dengan masyarakat lain. Motif perahu ini tidak hanya menggambarkan kebergantungan masyarakat terhadap perairan, tetapi juga membuka pemahaman tentang interaksi mereka dengan lingkungan luar, yang mungkin berkontribusi pada penyebaran kebudayaan.

Rektor ISBI Bandung Kukuhkan 341 Wisudawan dan Wisudawati Siap Terjun di Masyarakat dan Industri Keatif Jadi Agen Perubahan Pemajuan Kebudayaan Indonesia

  1. Senjata dan Alat: Refleksi Keterampilan dan Pertahanan Diri
    Senjata, seperti tombak dan parang, juga digambarkan dalam lukisan-lukisan ini. Senjata ini mencerminkan keterampilan teknis masyarakat Muna dalam bertahan hidup. Dalam banyak kebudayaan prasejarah, senjata bukan hanya alat untuk berburu, tetapi juga simbol kekuatan dan ketahanan. Lukisan senjata di Gua Metanduno bisa jadi adalah cara masyarakat untuk mengabadikan momen atau prestasi mereka dalam bertahan hidup, sekaligus menggambarkan bagaimana mereka melindungi diri dari ancaman.

Masyarakat Muna: Kehidupan yang Terhubung dengan Alam dan Budaya

Lukisan-lukisan yang ditemukan di Gua Metanduno memberikan gambaran jelas tentang kehidupan masyarakat Muna yang sangat terhubung dengan alam sekitar. Kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh alam—baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun budaya. Mereka bergantung pada hasil alam, baik itu dari berburu maupun dari perairan, dan dalam waktu yang sama, mereka mengembangkan simbol-simbol budaya yang merefleksikan nilai-nilai dan kepercayaan mereka.

Penelitian Gua Metanduno Prof Een Herdiani ISBI Bandung

Lukisan perahu, menggambarkan hubungan erat masyarakat Muna dengan lingkungan perairan

Kehidupan sosial masyarakat Muna juga sangat erat kaitannya dengan aktivitas budaya, seperti tarian, yang mungkin sebagai cara untuk merayakan keberhasilan atau menjaga keharmonisan dalam komunitas. Lukisan-lukisan ini bukan hanya bentuk sarana ekspresi seni, tetapi juga sebagai cara untuk menyampaikan pengetahuan dan tradisi, serta memperkuat ikatan sosial dalam kelompok.

Implikasi Ilmiah: Menjaga Warisan Budaya

Lukisan gua yang ditemukan di Gua Metanduno memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi. Dengan mempelajari lukisan-lukisan ini, kita bisa lebih memahami bagaimana masyarakat Muna pada masa prasejarah berinteraksi dengan alam dan lingkungan mereka, serta bagaimana mereka membangun sistem sosial dan budaya yang kaya. Penelitian lebih lanjut tentang lukisan-lukisan ini dapat memberikan wawasan penting tentang sejarah dan perkembangan kebudayaan di Sulawesi Tenggara.

Selain itu, temuan ini juga menunjukkan betapa pentingnya melestarikan situs-situs budaya seperti Gua Metanduno. Melalui pelestarian ini, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan kesempatan kepada generasi mendatang untuk mempelajari dan mengapresiasi sejarah dan kebudayaan nenek moyang mereka.

Kesimpulan

Lukisan gua di Gua Metanduno adalah sebuah jendela ke masa lalu yang menawarkan banyak informasi tentang kehidupan masyarakat Muna pada zaman prasejarah. Melalui gambar-gambar berburu, tarian, perahu, dan senjata, kita dapat melacak jejak peradaban dan budaya yang berkembang di Sulawesi Tenggara.

Lukisan-lukisan ini bukan hanya karya seni yang indah, tetapi juga sebuah sarana komunikasi yang menggambarkan nilai-nilai sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat Muna.

Menelusuri jejak-jejak ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang peradaban manusia, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan dan menghargai warisan budaya yang ada. Sebagai bagian dari identitas bangsa, lukisan gua ini harus dijaga dan dipelajari dengan penuh rasa hormat, agar kisahnya tetap hidup untuk generasi mendatang.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *