Kota Bandung – Hasil penelitian dan karya dosen maupun mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung tidak hanya ditampilkan dalam bentuk karya seni, tetapi juga ditargetkan agar tercatat dalam artikel ilmiah dan terpublikasi di jurnal nasional maupun internasional bereputasi.
Untuk mewujudkan hal itu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ISBI Bandung menggelar Seminar Nasional bertema “Membangun Reputasi Akademik, Melalui Riset, Pengkaryaan Seni, dan Pengabdian” di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Rabu (10/9/2025).
Ketua LPPM ISBI Bandung, Dr. Nani Sriwardani, S.T., M.Ds., mengatakan seminar ini menjadi wadah bagi para peneliti dan dosen untuk menyampaikan ide, gagasan, serta hasil riset yang telah dilakukan.
“Melalui seminar ini, dosen dan mahasiswa dapat memperluas wawasan, sekaligus membangun reputasi akademik melalui riset, pengkaryaan seni, dan pengabdian,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber internasional, yakni Assoc. Prof. Dr. Mohamed Nor Azhari Azman dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia, serta Muhammad Fairul Azreen Bin Mohd Zahid dari LASALLE College of the Arts, Singapura. Seminar diikuti dosen, mahasiswa, dan umum.
Saat ditanya mengenai target publikasi artikel ilmiah pada jurnal bereputasi, Nani menjelaskan bahwa para dosen ISBI Bandung memiliki target internal untuk menulis artikel ilmiah dan mempublikasikannya pada jurnal terindeks Sinta 2, sesuai dengan skema masing-masing.
Sementara itu, untuk beberapa penelitian pada jurnal Bima, target publikasinya ditujukan pada jurnal internasional bereputasi.
Lebih lanjut, Nani menambahkan bahwa pasca seminar, pihaknya menargetkan lebih dari 20 artikel ilmiah dapat dipublikasikan, baik dalam prosiding maupun jurnal bereputasi, baik nasional maupun internasional.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ISBI Bandung, Dr. Indra Ridwan, S.Sos., M.Sn., M.A., Ph.D., menegaskan seminar nasional ini merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi.
“Dalam seni terdapat tiga elemen penting: riset, pengkaryaan, dan pengabdian. ISBI Bandung memiliki banyak karya yang luar biasa, baik di tingkat nasional maupun internasional. Agar terekognisi secara luas, karya-karya itu harus dituangkan dalam tulisan ilmiah yang terpublikasi di jurnal bereputasi,” jelasnya.
Indra menambahkan, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini adalah peningkatan sitasi artikel.
“Beberapa tulisan dosen sudah terbit di jurnal, tinggal bagaimana strategi agar lebih banyak dikutip. Sitasi yang tinggi akan meningkatkan reputasi akademik ISBI Bandung,” katanya.
Ia juga menyebutkan, publikasi di jurnal internasional bereputasi membutuhkan dukungan pendanaan.
“Perguruan tinggi besar bisa memberi kompensasi kepada dosennya. ISBI sedang berupaya mengalokasikan dana agar peneliti yang menulis dan berhasil tembus jurnal internasional bisa mendapat penghargaan,” ujarnya.
Lebih jauh, Indra mengungkapkan aturan terbaru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memungkinkan publikasi artikel ilmiah menjadi salah satu syarat kelulusan mahasiswa, sebagai alternatif skripsi.
“Aturan ini sudah berlaku melalui
Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023, dan tahun ini diperbaharui melalui Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025. Mahasiswa (S1) bisa lulus bukan hanya lewat skripsi, tetapi juga dengan menulis artikel yang dipublikasikan di jurnal bereputasi. Di Prodi Tari dan Karawitan, kebijakan ini mulai diterapkan tahun ini,” jelas Indra.
Indra berharap seminar nasional ini tidak hanya memperkuat tradisi menulis di kalangan akademisi ISBI Bandung, tetapi juga membuka peluang lebih banyak karya seni dan riset masuk ke jurnal internasional bereputasi seperti Scopus Q1, Q2, dan Q3.
Assoc. Prof. Dr. Mohamed Nor Azhari Azman dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia, menilai banyak karya seni mahasiswa dan dosen ISBI Bandung yang potensial dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi internasional. Menurutnya, karya tersebut hanya perlu dikembangkan dan ditulis dalam format artikel ilmiah yang baik.
ISBI Bandung pun kata Azhari harus mendorong dan mewajibkan mahasiswanya, membuat sebuah artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal bereputasi. Hal ini bisa meningkatkan reputasi ISBI Bandung, karena banyak tersitasi.
Azhari mengungkapkan, saat ini sudah terdapat 105 artikel dosen ISBI Bandung yang tercatat memperoleh sitasi di Scopus. Selain itu, jurnal seni pertunjukan ISBI Bandung juga telah terakreditasi Sinta 2.
“Ini bisa didorong lebih jauh menuju indeks Scopus. Syaratnya sebenarnya sudah cukup, karena sudah ada sitasi di Scopus,” kata Azhari, yang telah mempublikasikan ratusan artikel di jurnal internasional bereputasi.
Dirinya juga memberikan trik khusus agar artikel ilmiah terindeks Scopus, kata Azhari harus diperbaiki sitasinya, formatnya harus konsisten, kemudian harus menambah internasional editorial board jurnal sesuai bidangnya.
Kalau fokus pada tiga hal ini, diyakini ISBI Bandung bisa memiliki jurnal seni pertunjukan terindeks dalam Scopus. Tidak kalah penting artikel ilmiah ditulis minimal dalam 3.000-7.000 kata dalam bahasa Inggris.
Menurutnya hal tersebut pun bisa berdampak pada ketertarikan mahasiswa mancanegara berkuliah di ISBI Bandung. Pasalnya Scopus ini berkaitan dengan QS Ranking, salah satu ukuran perankingan kampus bereputasi dunia. (FWP)***
Komentar