Cibinong, Kabupaten Bogor – SMKN 1 Cibinong terus berkomitmen meningkatkan kualitas layanan pendidikan pada tahun ajaran 2025. Kepala SMKN 1 Cibinong, Sugiyo, S.Pd., M.Pd., menyebutkan ada dua fokus utama sekolah, yakni peningkatan layanan pendidikan bagi siswa dan penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) guru.
“Kami ingin siswa mendapat pelayanan pendidikan maksimal sesuai standar Kementerian Pendidikan, bahkan bila perlu lebih. Di sisi lain, guru juga dituntut siap dengan kebijakan baru yang dinamis,” kata Sugiyo di ruang kerjanya, Jalan Raya Karadenan, Cibinong, baru-baru ini.
Sugiyo menjelaskan beberapa fenomena yang saat ini dihadapi sekolah, mulai dari kebijakan pencegahan anak putus sekolah (PAPS), perubahan jam masuk sekolah dari pukul 07.00 WIB menjadi 06.30 WIB, hingga penerapan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) berbasis Kurikulum Merdeka.

Yadi Rahmat, S.Pd., Tim Penjamin Mutu Sekolah (kanan) dan Wakil Kapala Sekolah bidang Hubin, Danu Winardi, S.T
“Kebijakan KDM (Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jabar), menambah jumlah siswa per rombel hingga 50 orang. Awalnya berat, tapi ini baik untuk memutus rantai anak putus sekolah. Jam belajar lebih pagi juga tidak mudah, namun kini mulai terbiasa,” ujarnya.
SMKN 1 Cibinong juga ditunjuk sebagai Pusat Pembelajaran Mendalam (PBM) untuk pelatihan guru, sekaligus menjadi lokus penerapan metode Deep Learning di Jawa Barat.
“Kami ingin lulusan SMKN 1 Cibinong siap bersaing, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pendidikan vokasi harus relevan dengan kebutuhan industri sekaligus mendukung kebijakan pemerintah,” pungkas Sugiyo.
Program PAPS dan Jumlah Siswa

Suasana pembelajaran kelas X SMKN 1 Cibinong, Kabupaten Bogor
Berkenaan dengan program PAPS, Yadi Rahmat, S.Pd., Tim Penjamin Mutu mengatakan penerapan PAPS tahun ini menambah kuota siswa baru di kelas X hingga 124 orang. Total siswa kelas X mencapai 909 orang, sementara keseluruhan siswa kelas X hingga XII berjumlah lebih dari 2.500 orang.
“Kendala utama ada di sarana prasarana, terutama untuk praktik di jurusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Fabrikasi Logam. Kami atur jobdesk bergilir agar siswa tetap produktif,” jelas Yadi.
Kelas Industri Toyota dan Komatsu
Lanjutnya SMKN 1 Cibinong juga memperkuat kerja sama dengan dunia industri. Salah satunya melalui New Toyota Technical Education Program (TTEP) di jurusan Teknik Kendaraan Ringan.

Implementasi teaching factory, SMKN 1 Cibinong, Kabupaten Bogor, jurusan Teknik Kendaraan Ringan dengan Toyota 2000
Program ini melibatkan pelatihan guru, pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS) Toyota, serta pemberian fasilitas praktik berupa satu unit mobil Toyota Yaris.
Selain itu, sekolah juga membuka bengkel Teaching Factory (Tefa) untuk melayani perawatan mobil Toyota Kijang Rangga terbaru.
Kerja sama lain dijalankan dengan PT Komatsu Indonesia sejak 2017. Program Kelas Industri Komatsu meliputi sinkronisasi kurikulum, pelatihan guru, hingga rekrutmen siswa setiap tahun.

Guru LPK Seikou Jagorawi, Handayani, S.E., dan Muhamad Kemal Pasya, siswa kelas XII
“Tidak ada jaminan lulusan langsung bekerja di Toyota atau Komatsu, tetapi peluang diterima lebih besar karena kurikulumnya sudah sesuai standar industri,” tegas Yadi.
Program Magang ke Jepang
Pada kessmpatam yang sama Wakil Kapala Sekolah bidang Hubin, Danu Winardi, S.T., mengungkapkan SMKN 1 Cibinong juga menjadi penerima program pemerintah untuk akses kerja ke luar negeri, khususnya ke Jepang.
“Pemerintah memberikan bantuan Rp10 juta per siswa untuk pelatihan bahasa dan persiapan fisik. Tahun ini kuotanya 15 orang, dipilih melalui seleksi minat, uji fisik, dan komitmen orangtua,” ujar Danu.

Pengajaran bahasa Jepang di SMKN 1 Cibinong, Kabupaten Bogor
Peserta diwajibkan mencapai sertifikasi bahasa Jepang setara JLPT N4. Bidang pekerjaan yang ditawarkan meliputi konstruksi, pengelasan, dan pengolahan makanan.
Program magang berlangsung tiga tahun, dengan peluang lanjut kontrak kerja hingga lima tahun.
Dukungan LPK dan Testimoni Siswa
Sedangkan Guru LPK Seikou Jagorawi, Handayani, S.E., menegaskan pembelajaran bahasa Jepang dipercepat dengan metode easy learning.

SMKN 1 Cibinong, Kabupaten Bogor menyiapkan SDM unggul
“Targetnya siswa menguasai minimal 70 persen materi, termasuk hafalan 60–80 kosakata per hari,” ujarnya.
Salah satu siswa kelas XII, Muhamad Kemal Pasya, mengaku tertarik mengikuti program magang Jepang karena gemar budaya Jepang sejak SMP. “Belajar kanji memang sulit, tapi dengan latihan rutin saya sudah menguasai lebih dari 400 kosakata. Harapannya bisa lolos wawancara dan bekerja di Jepang,” kata Kemal.
Dengan berbagai program unggulan, mulai dari PAPS, Kelas Industri, hingga magang ke Jepang, SMKN 1 Cibinong berupaya menjawab tantangan pendidikan vokasi di era global. (FWP)***
Komentar