FWPJABAR.COM, KAB. BANDUNG, — Bupati Bandung, Dadang Supriatna, yang akrab disapa Kang DS, terus memacu akselerasi penyerapan tenaga kerja di wilayahnya. Dalam agenda pelantikan pengurus DPD Himpunan Lembaga Latihan Seluruh Indonesia (HILLSI) Kabupaten Bandung masa bakti 2026–2031, ia menegaskan bahwa Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) adalah motor penggerak utama dalam mencetak SDM siap pakai.
Acara yang berlangsung di Soreang pada Jumat, 24 April 2026 tersebut menjadi momentum penting bagi penguatan sinergi antara lembaga pelatihan dan sektor industri.
Sinergi LPK dengan 157 Perusahaan Lokal
Kang DS memaparkan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung memiliki target ambisius untuk menciptakan minimal 10.000 lapangan kerja baru setiap tahunnya. Untuk mencapai angka tersebut, LPK diharapkan tidak berjalan sendiri, melainkan harus terkoneksi langsung dengan kebutuhan nyata dunia usaha.
“Kita punya kekuatan 157 perusahaan di Kabupaten Bandung. HILLSI harus mampu menjembatani kolaborasi ini agar kurikulum pelatihan di LPK sinkron dengan kriteria yang dicari industri. Tujuannya satu: lulusan pelatihan langsung terserap kerja,” tegas Kang DS.
Peluang Besar dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Bupati mengungkapkan optimisme tinggi mengingat capaian penyerapan tenaga kerja tahun lalu berhasil melampaui target. Selain sektor manufaktur, peluang besar kini muncul dari implementasi program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Diperkirakan, program MBG saja mampu membuka lowongan bagi sekitar 15.000 orang, khususnya untuk operasional dapur di berbagai wilayah. Jika diakumulasikan dengan program daerah lainnya, potensi lapangan kerja di Kabupaten Bandung sebenarnya mencapai puluhan ribu posisi.

Tantangan Digitalisasi dan Angkatan Kerja Baru
Meski peluang terbuka lebar, Kang DS mengingatkan tantangan dari pesatnya pertumbuhan angkatan kerja baru setiap tahun. Saat ini terdapat sekitar 150 LPK di Kabupaten Bandung yang harus terus meningkatkan kualitasnya.
Beberapa poin penekanan Bupati untuk LPK ke depan antara lain:
- Adaptasi Teknologi: LPK wajib mencetak SDM yang melek digital agar kompetitif di era industri modern.
- Profesionalisme: Mencetak tenaga kerja yang memiliki etos kerja tinggi dan keahlian spesifik.
- Indikator Terukur: Setiap program pelatihan harus memiliki target serapan yang jelas, bukan sekadar formalitas.
“LPK harus melahirkan SDM yang profesional sekaligus adaptif terhadap digitalisasi. Saya ingin program pelatihan memberikan dampak nyata yang bisa langsung dirasakan oleh ekonomi daerah,” pungkasnya.***



Komentar