FWPJABAR.COM, BANDUNG, — Gelaran lomba lari Bank BJB Bandoeng 10K terbukti telah bergeser paradigma. Ajang tahunan ini tidak lagi dipandang sebagai sekadar olahraga rekreasional (fun run), melainkan telah menjelma menjadi kompetisi atletik yang serius, kompetitif, dan memiliki tensi persaingan yang tinggi.
Ketua Komisi Pemassalan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), Satyo Haryo Wibisono, mengungkapkan adanya lonjakan kualitas performa yang masif dari para peserta pada edisi kali ini, baik pada kategori pelari profesional (elite runner) maupun pelari amatir.
“Peningkatan performa tidak hanya didominasi oleh kelas elite. Para pelari rekreasional pun tampak jauh lebih bersiap diri. Jumlah peserta yang mampu menembus garis finis dengan catatan waktu di bawah 55 hingga 60 menit melonjak tajam,” jelas Satyo dalam konferensi pers Bank BJB Bandoeng 10K di Balai Kota Bandung, Minggu (17/5/2026).
Satyo menilai fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa kultur olahraga lari di Indonesia bergerak ke arah yang lebih terukur dan kompetitif. Sebagai bukti konkret, pelari elite pria pada ajang tahun ini mampu membukukan catatan waktu finis yang impresif, yakni di kisaran 26 menit.
“Catatan waktu di bawah setengah jam untuk kategori pria ini membuktikan bahwa kualitas kompetisinya berada di level yang sangat baik,” tambahnya.
Bank BJB Bandoeng 10K: Rivalitas Sengit dengan Pelari Asing
Selain urusan waktu tempuh, Satyo menyoroti persaingan sengit yang terjadi di sektor putri, di mana atlet nasional andalan Indonesia, Odekta Elvina Naibaho, terlibat kejar-mengejar angka yang sangat ketat dengan pelari asal Kenya. Jarak finis yang sangat tipis mempertegas tingginya standar perlombaan tahun ini.
Ditemui di lokasi yang sama, Odekta Elvina Naibaho mengakui bahwa rute jalanan Kota Kembang menyajikan karakteristik dan tantangan geografis yang berbeda dibanding kota-kota lain.
“Medan di Bandung punya kesulitan tersendiri. Atmosfer perlombaan tahun ini pun jauh lebih menantang berkat kehadiran para pelari internasional asal Kenya,” tutur Odekta.
Meski menantang, Odekta menyebut faktor cuaca dan suhu udara Bandung yang sejuk menjadi pendukung utama yang menjaga kenyamanan para atlet dalam memacu kecepatan. Ia bahkan menjuluki perhelatan ini sebagai “Hajatan Besar Kota Bandung” karena besarnya sokongan moral dari warga lokal di sepanjang rute steril.
“Saya berharap ke depannya jalur steril bisa terus dipertahankan secara maksimal agar semua orang bisa menikmati pesta olahraga ini,” kata atlet nasional tersebut.

Evaluasi Infrastruktur Publik Kota Bandung
Merespons kesuksesan acara, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa maraknya ajang sport tourism seperti Bandoeng 10K menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi kualitas infrastruktur publik.
Menurut Farhan, indikator jalan raya yang ideal tidak boleh hanya mengacu pada kenyamanan kendaraan bermotor, melainkan wajib ramah bagi para pejalan kaki, pelari, pesepeda, hingga kelompok penyandang disabilitas.
“Fasilitas jalan terbaik adalah yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman untuk masyarakat yang berjalan kaki maupun yang berolahraga jogging,” pungkas Farhan.
Dari sisi keselamatan kerja panitia, jalannya perlombaan dilaporkan berkategori aman dan kondusif. Tim medis mencatat, dari total 35 peserta yang sempat mendapatkan penanganan di tenda kesehatan, tidak ditemukan adanya kasus cedera fatal.
Mayoritas pelari sukses menyelesaikan tantangan rute hingga ke garis akhir, dengan angka kelulusan (finisher rate) mencapai 97 persen dari keseluruhan peserta yang melakukan start.***


Komentar