SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Event Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Dihadiri Panglima Kopassus hingga Stafsus Wapres, Reuni Akbar SMAN 2 Bandung Suarakan Perang Lawan Bullying

Dihadiri Panglima Kopassus hingga Stafsus Wapres, Reuni Akbar SMAN 2 Bandung Suarakan Perang Lawan Bullying

Stafsus Wapres Tina Talisa dan Panglima Kopassus Letjen Jhon Afriandi di Reuni SMAN 2 Bandung
Stafsus Wapres Tina Talisa dan Panglima Kopassus Letjen Jhon Afriandi di Reuni SMAN 2 Bandung

FWPJABAR.COM, BANDUNG, — Reuni akbar lintas angkatan SMA Negeri 2 Bandung yang berlangsung pada Sabtu (16/5/2026) pagi, menjadi momentum krusial bagi penataan karakter dunia pendidikan. Diikuti oleh hampir 3.000 alumni, ajang silaturahmi bertajuk “Karetna Dua” ini tidak sekadar menjadi ruang nostalgia, melainkan juga meluncurkan gerakan bersama melawan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Agenda yang dipusatkan di area masif kampus SMAN 2 Bandung ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, pejabat negara, hingga figur publik. Di antaranya Staf Khusus Wakil Presiden RI Tina Talisa, Panglima Kopassus Letjen TNI Jhon Afriandi, serta dua seniman kenamaan tanah air, Tri Utami dan Dewi Lestari.

Ketua Panitia Reuni Besar, Hendra Jaya, menjelaskan bahwa lewat rangkaian acara bertajuk Dialog Inspiratif, para alumni sukses menyatukan komitmen untuk menghapus sekat senioritas demi menciptakan iklim belajar yang egaliter.

Momentum Penurunan Harga Emas, Bandung Jewellery Fair 2026 Resmi Dibuka untuk Dorong Industri Kreatif dan Investasi

“Kami membuat satu sarana dan wahana agar adik-adik siswa di sini bisa bebas berkreasi tanpa perlu lagi melihat adanya batasan generalitas dan junioritas dalam struktur pendidikan di SMA,” tegas Hendra Jaya saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.

Peresmian Amphitheater yang dibangun oleh para alumni sebagai Ruang Kreatif untuk Siswa SMAN 2 Bandung
Peresmian Amphitheater yang dibangun oleh para alumni sebagai Ruang Kreatif untuk Siswa SMAN 2 Bandung

Resmikan Amphitheater SMAN 2 Bandung: Ruang Kreatif untuk Siswa

Sebagai bentuk kontribusi nyata dan rasa kasih sayang alumni kepada generasi masa kini, reuni akbar ini diresmikan dengan penyerahan prasasti Amphitheater. Fasilitas ruang terbuka ini dibangun secara swadaya oleh para alumni untuk seluruh siswa tanpa memandang strata tingkatan kelas maupun organisasi tertentu.

Staf Khusus Wapres RI, Tina Talisa, yang juga merupakan alumni angkatan 1997 SMAN 2 Bandung menyatakan bahwa keberadaan ekosistem fisik seperti amphitheater sangat ampuh untuk mengalihkan energi berlebih para remaja ke arah yang lebih positif, seperti kesenian dan organisasi.

Bandung Jadi Pusat Perhatian, 114 Atlet Top Asia Tenggara Siap Berlaga di Kejuaraan Tenis Meja ASEAN 2026

“Kesuksesan itu memang dibentuk oleh pribadi, tetapi ekosistem bertumbuh itu sangat menentukan. Ruang-ruang bertumbuh ini sangat penting di usia remaja agar anak-anak belajar bertoleransi, berempati, dan memiliki creative thinking,” urai Tina.

Stafsus Wapres RI Tina Talisa bersama Panglima Kopassus Letjen TNI Jhon Afriandi dan para alumni saat menghadiri Reuni Akbar lintas angkatan SMAN 2 Bandung.
Stafsus Wapres RI Tina Talisa bersama Hendra Jaya Ketua Panitia reuni Saat wawancara disela-sela acara Reuni Akbar lintas angkatan SMAN 2 Bandung.

Bullying Jadi Bahaya Besar Setara Narkoba

Dalam sesi Dialog Inspiratif, Tina Talisa memberikan peringatan keras bahwa perundungan saat ini sudah dikategorikan sebagai ancaman bahaya besar yang setara dengan narkoba. Pasalnya, dampak trauma psikologis yang dihasilkan akan membekas dalam jangka menengah hingga jangka panjang, baik bagi korban maupun pelaku.

Mantan presenter nasional ini menambahkan bahwa tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks. Bentuk bullying kini tidak lagi sekadar kontak fisik atau verbal secara langsung, melainkan sudah merambah ke ranah digital melalui media sosial.

Optimalkan Anggaran TNI AD, Dankodiklatad Instruksikan Penguatan Akuntabilitas Satker

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Menekan angka perundungan ini adalah kerja bersama antara pendidik, sekolah, orang tua, hingga lingkungan media sosial yang kini menjadi rumah baru bagi anak-anak. Pendidikan karakter, empati, dan toleransi harus ditanamkan sejak dini,” jelas Tina.

Ia juga mendorong para korban perundungan untuk berani bersuara (stand up) dan mencari bantuan. Sementara bagi para pelaku, Tina menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf dan mengubah perilaku negatif menjadi tindakan kolektif yang lebih produktif.***

Dankodiklatad Berbagi Gagasan Gerilya Modern dalam Dialog Strategis TNI AL

Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Populer Bulan Ini

Pilihan Editor

×
×