FWPJABAR.COM, Bandung – Inaugurasi REVOSA 25 yang dirangkaikan dengan Kuliah Umum bertema “Menuju Indonesia 2045: Anak Muda, Demokrasi, dan Pertahanan Bangsa” menjadi momentum penting bagi Universitas Sangga Buana (USB) YPKP dalam menegaskan peran strategis generasi muda sebagai subjek utama demokrasi dan penjaga masa depan bangsa.
Kegiatan yang di gelar di gedung serbaguna kampus usb ypkp pada kamis, 29 januari 2026 ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional lintas latar belakang, mulai dari Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Rocky Gerung, Refly Harun, hingga H.M.S. Kaban, dengan Hersubeno Arif sebagai moderator. Kehadiran para narasumber tersebut menegaskan komitmen kampus dalam membuka ruang dialog kritis, seimbang, dan bertanggung jawab.
Bonus Demografi dan Tantangan Indonesia 2045
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan (YPKP) Dr. R. Ricky Agusiady, SE, MM, Ak, CFRA, CHRM, menegaskan bahwa tahun 2045 bukan sekadar angka, melainkan tonggak penentuan apakah Indonesia mampu menjadi negara maju, berdaulat, dan bermartabat di usia satu abad kemerdekaannya.

Ia menyoroti posisi Indonesia yang tengah berada dalam fase bonus demografi, di mana lebih dari 68 persen penduduk berada pada usia produktif sebagaimana proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2020–2035.
“Bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Tanpa pembinaan yang tepat, ia justru bisa berubah menjadi musibah demografi,” tegas Ricky.
Menurutnya, dominasi usia produktif tanpa kualitas pendidikan, literasi demokrasi, dan karakter kebangsaan yang kuat berpotensi melahirkan pengangguran massal, instabilitas sosial, hingga kerentanan terhadap disinformasi dan konflik.
Anak Muda sebagai Subjek Demokrasi dan Pertahanan Bangsa
Ricky menekankan bahwa anak muda bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek utama demokrasi dan pertahanan bangsa. Demokrasi yang sehat, lanjutnya, hanya dapat tumbuh dari generasi muda yang kritis, beretika, dan berorientasi pada kepentingan nasional.
“Pertahanan bangsa hari ini tidak hanya soal senjata, tetapi juga ketahanan ideologi, ekonomi, sosial, dan budaya,” ujarnya.
Atas dasar itu, yayasan dan kampus memikul tanggung jawab untuk tidak sekadar mencetak lulusan cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan warga negara yang sadar demokrasi dan memiliki semangat bela negara.

Di Balik Pro-Kontra Inaugurasi REVOSA 25
Dalam wawancara terpisah, Ricky mengungkapkan bahwa pelaksanaan kegiatan ini sempat memunculkan pro dan kontra, baik dari internal maupun eksternal kampus. Namun ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut sepenuhnya merupakan inaugurasi mahasiswa, dengan yayasan berperan sebagai fasilitator.
“Selama kegiatan itu dilindungi negara dan tidak melanggar hukum, kenapa tidak? Mahasiswa justru harus dibekali informasi yang seimbang, bukan hanya yang ‘bagus-bagus’ saja,” ujarnya.
Menurut Ricky, pengalaman berorganisasi mahasiswa menjadi kunci pembentukan karakter, keberanian berargumen, dan kepemimpinan. Ia menilai mahasiswa yang hanya fokus pada aktivitas akademik cenderung kurang memiliki kesadaran kebangsaan dibanding mereka yang aktif berorganisasi.
“Mindset berani berargumentasi, berpikir kritis, dan meyakinkan orang itu terbentuk dari organisasi mahasiswa. Itu yang membentuk saya,” katanya, merujuk pengalamannya aktif di senat mahasiswa hingga Resimen Mahasiswa (Menwa).
Kampus sebagai Ruang Aman Diskusi dan Gagasan
Ricky menegaskan, menghadirkan narasumber dengan beragam perspektif bukan berarti kampus mendorong radikalisme atau sikap anti-pemerintah.
“Ini bukan indoktrinasi. Mahasiswa punya bank data sendiri. Kita beri ruang agar mereka bisa memilah, memeriksa, dan menolak jika perlu. Yang penting bukan radikalisme, bukan komunisme, dan bukan hasutan,” tegasnya.
Ia menilai kehadiran para narasumber justru memperkuat awareness kebangsaan mahasiswa, terlebih generasi muda saat ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan akses informasi luas.

Rektor USB YPKP: Inaugurasi adalah Satu Kesatuan Pembinaan
Sementara itu, Rektor USB YPKP Dr. Didin Saepudin, SE, M.Si, menjelaskan bahwa inaugurasi mahasiswa baru di USB YPKP dirancang sebagai satu kesatuan pembinaan, yang mencakup aspek kelembagaan, akademik, dan kebersamaan.
“Tiga hal penting dalam inaugurasi ini adalah pengakuan kelembagaan mahasiswa, muatan akademik melalui kuliah umum, dan penguatan kebersamaan,” ujar Didin.
Ia menyebutkan, kuliah umum menjadi bagian krusial dalam membangun cara berpikir kritis dan rasa nasionalisme mahasiswa, selaras dengan visi menyiapkan calon pemimpin bangsa menuju Indonesia 2045.
Membangun Nalar Kritis dan Kepedulian Kebangsaan
Menurut Didin, mahasiswa USB YPKP didorong untuk tidak hanya menguasai hard skill keilmuan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu kebangsaan, lingkungan, dan dinamika global.
“Mahasiswa hari ini sudah mampu membaca situasi dunia, tidak hanya berkutat pada bidang studinya. Ini menunjukkan kemampuan berpikir kritis mulai terbentuk,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa ruang diskusi akademik tidak identik dengan sikap berseberangan dengan pemerintah, melainkan bagian dari proses intelektual untuk memahami persoalan secara komprehensif dan mencari solusi terbaik.
Komitmen Menuju Indonesia Emas 2045
Melalui Inaugurasi REVOSA 25 dan kuliah umum ini, USB YPKP menegaskan komitmennya menjadikan kampus sebagai ruang aman dialog, pengasahan nalar, dan pembentukan karakter kebangsaan.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi titik awal komitmen intelektual dan moral mahasiswa untuk berkontribusi nyata dalam menjaga demokrasi dan memperkuat pertahanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.***
Komentar