FWPJABAR.COM, BANDUNG – Suasana khidmat menyelimuti pertemuan rutin Majelis Taklim Al-Jabbar 86 yang berlangsung di Dago Resort Bandung, Minggu, 12/04/2026. Bukan sekadar perkumpulan biasa, kegiatan bulanan ini telah menjadi oase bagi para santri yatim piatu dan dhuafa untuk mereguk ilmu agama sekaligus menjemput harapan pendidikan yang lebih tinggi. Pertemuan kali ini terasa kian istimewa dengan kehadiran pakar Al-Qur’an dan tokoh akademisi nasional.
Al-Qur’an sebagai ‘Pengacara’ di Alam Keabadian
Syaikh Khanova Maulana, Lc., M.Ag., pemegang sanad Qiroat Al-Qur’an Asyroh Kubro dan Shugro, hadir memberikan pencerahan rohani. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan kebutuhan mendasar manusia untuk keselamatan di hari akhir.
“Salah satu alasan utama kita harus senantiasa bersama Al-Qur’an adalah karena kita butuh syafaat. Saat kita bingung siapa yang akan menyelamatkan dan mendampingi kita sejak alam kubur hingga Padang Mahsyar, Al-Qur’an hadir sebagai ‘pengacara’ kita,” ujar Syaikh Khanova dengan nada yang menyejukkan.

Beliau mengutip Imam Syatibi dan hadis Rasulullah SAW tentang bagaimana Al-Qur’an akan menjelma menjadi sosok bercahaya terang layaknya kilat (Sana) di tengah kegelapan kubur. Secara khusus, beliau menyoroti keutamaan Surat Al-Mulk.
“Al-Qur’an akan mendatangi sahabatnya seperti pemuda rupawan yang membawa senyum kebahagiaan. Ia berkata, ‘Jangan takut, aku di sini mendampingimu.’ Itulah Surat Al-Mulk, surat yang akan membela pembacanya hingga berhasil memasukkannya ke dalam surga,” tambahnya, mengajak para santri untuk minimal menjaga bacaan surat-surat pilihan.
Mencetak Pemimpin Berbasis Akhlak dan Sains
Semangat spiritual tersebut berkelindan dengan motivasi intelektual. Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd., Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang turut hadir, memandang para santri binaan MT Al-Jabbar 86 sebagai aset emas nasional.
“Mereka adalah calon pemimpin masa depan. Namun, potensi ini perlu ditingkatkan, baik di lingkungan pesantren maupun pendidikan formal,” tegas Prof. Juntika.

UPI berkomitmen membuka pintu kolaborasi luas bagi para santri untuk menempuh jenjang Magister hingga Doktor. Tahun ini, pihak Pascasarjana UPI bahkan memberikan rekomendasi khusus bagi santri berprestasi untuk mengembangkan pendidikan.
“Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Jika akhlaknya kuat dan kapasitas saintisnya tinggi, maka Indonesia akan menjadi pusat peradaban dunia pada 2045. Santri-santri inilah yang akan memimpin dengan semangat hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) dan menjadi rahmat bagi semesta alam,” jelasnya.

Mimpi Santri: Dari Pesantren Menuju Magister
Optimisme tersebut terpancar dari sosok Moch. Adli Yusuf, santri Tahfidz An-Nafi. Di hadapan para pembina, ia menyatakan tekadnya untuk melanjutkan studi S2 di UPI Bandung dengan mengambil konsentrasi Administrasi Bisnis.
“Saya ingin mengembangkan potensi bisnis untuk membantu sesama santri ke depannya. Ketertarikan saya berangkat dari keinginan agar santri tidak hanya mumpuni di bidang agama, tapi juga memiliki kemandirian ekonomi,” ungkap Adli.

Kepedulian Nyata Majelis Taklim Al-Jabbar 86: Penyerahan Sembako Bulanan
Kegiatan ditutup dengan aksi nyata yang menyentuh sisi kemanusiaan. Sebagai bentuk dukungan operasional harian bagi para santri binaan, dilakukan penyerahan bantuan sembako bulanan.
Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh para anggota MT Al-Jabbar 86 kepada para pembina santri dari masing-masing pondok tempat santri bernaung. Paket sembako ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi pondok sehingga para santri dapat lebih fokus dalam menghafal Al-Qur’an dan menuntut ilmu.
Langkah MT Al-Jabbar 86 ini menjadi bukti bahwa pembinaan generasi muda harus dilakukan secara holistik: memberikan nutrisi bagi ruhani dengan Al-Qur’an, nutrisi bagi akal dengan pendidikan tinggi, dan nutrisi bagi fisik melalui kepedulian sosial.***



Komentar