FWPJABAR.COM, BANDUNG, – Memasuki fase krusial sepuluh malam terakhir Ramadan 1447 H, Majelis Taklim (MT) Al-Jabar 86 menggelar aksi kemanusiaan dan religi berskala besar di Masjid Agung Trans Studio Mall (TSM), Bandung, Rabu (11/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi 217 santri yatim piatu dan duafa binaan untuk merasakan keberkahan malam ganjil melalui serangkaian agenda keagamaan dan pemberdayaan ekonomi.
Acara yang berlangsung mulai sore hingga waktu Subuh tersebut tidak hanya diisi dengan ritual ibadah, tetapi juga menjadi bukti nyata sinergi antara komunitas hobi dan misi sosial.

Investasi Masa Depan di Tengah Tantangan Ekonomi
Ketua Umum MT Al-Jabar 86, Dr. Andri Wilman, mengungkapkan bahwa pemilihan waktu di sepuluh hari terakhir Ramadan bertujuan untuk mengajak para santri dan seluruh anggota majelis mengejar keutamaan Lailatul Qadar. Namun, lebih dari itu, Dr. Andri menekankan pentingnya menyiapkan “tongkat estafet” kepemimpinan nasional melalui pembinaan anak-anak yatim.
“Sesuai arahan dan tuntunan ibadah, kita masuk di malam-malam ganjil untuk meningkatkan amalan. Namun, poin pentingnya adalah bagaimana kita menginspirasi keluarga besar MT Al-Jabar dan generasi penerus ini. Kita tidak pernah tahu seberat apa perjuangan generasi selanjutnya, maka bekal mental dan iman harus diberikan maksimal sejak sekarang,” ujar Dr. Andri saat ditemui di Masjid Agung TSM.

Menurut Dr. Andri, MT Al-Jabar 86 yang dihuni oleh member dari berbagai latar belakang—termasuk komunitas otomotif roda empat dan motor besar seperti Harley Owner Group (HOG) dan HDCI—berusaha membuktikan bahwa hobi dan ketaatan kepada Allah SWT bisa berjalan beriringan.
“Kami memiliki hobi yang sama, tapi kami juga memiliki komitmen yang sama dalam menegakkan ketaatan. Hari ini, kami ajak 217 anak untuk keluar dari zona nyaman. Jika biasanya kita buka bersama keluarga, hari ini keluarga besar kita bertambah dengan hadirnya anak-anak luar biasa di sekitar kita,” tambahnya.

Baju Lebaran dan Kemandirian Santri
Salah satu momen yang paling mengundang senyum adalah saat para pengurus mengajak santri dan pembimbing santri berbelanja baju lebaran di mall. Dr. Andri menjelaskan, pemberian baju baru setahun sekali ini bertujuan memberikan suntikan semangat bagi para pimpinan pondok dan santri dalam menjalani keseharian mereka.
Selain kebahagiaan fisik, Dr. Andri juga memaparkan capaian luar biasa di bidang pendidikan Al-Qur’an. Melalui program karantina hafalan di Masjid An-Naafi’ Dago, Bandung, sinergi ini telah melahirkan penghafal Al-Qur’an yang progresif.
“Alhamdulillah, ada santri yang dalam waktu 6 bulan sudah tercapai hafalan 30 juz. Rata-rata santri lainnya sudah di posisi 13 hingga 23 juz. Ini semua tercapai berkat kesolidan pengurus dan dukungan seluruh member yang ingin melihat santri tidak hanya pandai ilmu agama, tapi juga punya kemandirian dalam berusaha,” jelasnya.
Visi Nagreg: Pondok Tahfiz Berkonsep Unit Bisnis
Menatap masa depan, MT Al-Jabar 86 kini tengah menggeber pembangunan Pondok Tahfiz Al-Jabar 86 di Nagreg, Kabupaten Bandung. Lokasi yang dikelola langsung oleh Dr. Andri ini direncanakan menjadi “proyek percontohan” (pilot project) bagi pesantren modern.
“Insya Allah, di Nagreg kami sedang membangun tempat pembinaan mandiri milik kita sendiri. Fokusnya adalah santri tidak hanya mendalami Al-Qur’an, tapi juga berbasis unit bisnis. Kami ingin melahirkan pemimpin yang amanah. Sebab, kepandaian tanpa akhlak itu berbahaya bagi pembangunan bangsa,” tegas Dr. Andri.

Haru dan Syukur dari Panti Asuhan Ciririp
Suasana khidmat juga dirasakan oleh para pendamping santri. Ulan, seorang musrifah dari Panti Asuhan Ciririp, Cililin, Kabupaten Bandung Barat, berbagi kisah tentang latar belakang anak asuhnya yang beragam, mulai dari yatim piatu hingga kaum duafa.
“Kami sebenarnya adalah panti asuhan rumah singgah, bukan pesantren formal. Namun, kami memiliki program tahfiz yang terus diperkuat. Anak-anak ini belajar sekolah normal di luar dan pulang ke panti untuk mengaji. Mengenal MT Al-Jabar dan Pak Haji (Dr. Andri) adalah berkah luar biasa bagi kami,” ungkap Ulan.
Rasa senang juga diungkapkan oleh Sinta Purnama dan Dini Nur Aini, dua santriwati yang baru setahun bergabung di yayasan tersebut. Dengan nada malu-malu, Sinta mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru sejak dibina.
“Dulu banyak yang belum tahu, sekarang jadi tahu, terutama tentang sunnah. Di sini seru, banyak teman, dan alhamdulillah bisa ikut belanja baju lebaran juga,” kata Sinta sambil tersenyum.
MT Al-Jabar 86 berkomitmen akan terus menjadikan program pemberdayaan santri sebagai investasi dunia dan akhirat. (FWP)***



Komentar