SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umum
Beranda / Umum / Ketahanan Ekonomi Jawa Barat Kokoh: APBN Regional Cetak Surplus Rp11,9 Triliun di Tengah Gejolak Global

Ketahanan Ekonomi Jawa Barat Kokoh: APBN Regional Cetak Surplus Rp11,9 Triliun di Tengah Gejolak Global

realisasi belanja dan pendapatan APBN regional Jawa Barat
realisasi belanja dan pendapatan APBN regional Jawa Barat

Akselerasi Belanja Modal dan Evaluasi Dana Desa

Realisasi Belanja Negara di Jawa Barat per akhir April 2026 mencapai Rp37,20 triliun (34,97% dari total pagu Rp106,36 triliun), atau tumbuh tipis 0,02% secara tahunan. Lompatan tertinggi terlihat pada Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) yang meroket 25,53% dengan realisasi Rp12,85 triliun. Pendorong utamanya adalah Belanja Modal yang melonjak tajam 108,97% (yoy) hingga menyentuh Rp1,16 triliun, buah dari strategi front-loading anggaran di awal tahun.

Catatan Transfer Ke Daerah (TKD):

Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) terkontraksi 9,67% (yoy) dengan realisasi Rp24,34 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh penyusutan pagu global TKDD untuk tahun anggaran 2026.

Secara rinci, TKD tersalurkan Rp23,79 triliun (turun 0,97%), sedangkan Dana Desa baru terealisasi Rp550,13 miliar (terkoreksi 81,20%). Keterlambatan ini terjadi karena proses penyaluran Dana Desa baru bisa berjalan pada Maret 2026 pasca-terbitnya payung hukum regulasi PMK No. 7 Tahun 2026.


Konferensi Pers: Kinerja APBN Regional Jawa Barat s.d. April 2026
Konferensi Pers: Kinerja APBN Regional Jawa Barat s.d. April 2026

Progres Nyata Program Prioritas Nasional di Jawa Barat

Fungsi APBN sebagai stimulan kesejahteraan langsung dirasakan masyarakat melalui berbagai program kerja strategis:

Awali Pembangunan Masjid Besar Cikancung, Bupati Dadang Supriatna Pimpin Peletakan Batu Pertama dan Galang Dana Spontan

  1. Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Telah menjangkau 14,59 juta jiwa penerima manfaat di 27 Kabupaten/Kota, ditopang oleh 6.535 Satuan Pelayanan Peningkatan Gizi (SPPG) serta 28.623 mitra pemasok lokal.
  2. Pembiayaan Perumahan (FLPP): Menyalurkan Rp1,66 triliun untuk 13.159 penerima manfaat, bekerja sama dengan 1.039 pengembang di 1.515 kompleks perumahan.
  3. Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP): Sebanyak 5.970 unit koperasi tingkat desa/kelurahan telah terbentuk dengan tingkat pemetaan gerai aktif mencapai 52,60%.
  4. Sektor Pendidikan: Program Sekolah Rakyat telah beroperasi di 20 wilayah dengan total 43 unit sekolah (13 SD, 20 SMP, 10 SMA). Sementara program Revitalisasi Sekolah telah merampungkan 1.625 unit dari target 1.699 unit. Selain itu, SMA Unggul Garuda di Bogor terpantau konsisten berjalan sejak tahun ajaran 2025.
  5. Ketahanan Pangan: Sektor ini menyerap anggaran sebesar Rp1,697 triliun dengan output produksi padi Jawa Barat mencapai 2,48 juta ton.
  6. Injeksi Modal UMKM: Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menembus Rp12,87 triliun untuk 195,74 ribu pelaku usaha (berkontribusi 11,45% terhadap nasional), dominan di sektor perdagangan. Adapun Kredit Ultra Mikro (UMi) tersalurkan Rp914,66 miliar kepada 159,28 ribu debitur.

Indikator Makro: Pertumbuhan Ekonomi dan Kinerja Dagang

Secara makro, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada Triwulan I-2026 tumbuh positif 5,79% (yoy) atau 0,24% secara kuartalan (q-to-q), dengan kontributor utama dari sektor industri pengolahan. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp799,11 triliun.

Inflasi dan Sektor Perdagangan

Tingkat inflasi per April 2026 berada di angka terkendali sebesar 2,49% (yoy). Secara spasial, Kabupaten Majalengka mencatat inflasi tertinggi (3,01%), sedangkan Kota Depok menjadi yang terendah (2,22%). Komoditas pemicu inflasi utama adalah emas perhiasan, daging ayam, dan beras. Sebaliknya, komoditas holtikultura seperti duo bawang dan cabai merah justru menyumbang deflasi.

Di sektor eksternal, neraca perdagangan Jawa Barat pada Maret 2026 membukukan surplus sebesar USD 1,98 miliar, sehingga total surplus sepanjang kuartal pertama menembus USD 6,55 miliar. Perdagangan non-migas dengan Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar (USD 1.420,04 juta), mengompensasi defisit dagang dengan Tiongkok dan Taiwan.

Namun, tantangan terlihat di sektor kesejahteraan pekerja sektor primer. Nilai Tukar Petani (NTP) terkoreksi 1,60% ke level 118,76, dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) ikut turun 1,20% ke angka 117,89, imbas dari penurunan indeks harga yang diterima oleh produsen.

Secara keseluruhan, di tengah dinamika global, instrumen APBN regional di Jawa Barat terbukti efektif menjalankan perannya sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.***

Jamin Kelayakan Iduladha, Pemkot Bandung Siagakan Tim Pengawas Hewan Kurban 24 Jam

Laman: 1 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Populer Bulan Ini

01

Dihadiri Panglima Kopassus hingga Stafsus Wapres, Reuni Akbar SMAN 2 Bandung Suarakan Perang Lawan Bullying

02

Cetak 791 Lulusan, IWU Bandung Targetkan Sejuta Wanita Sarjana Lewat Beasiswa Internasional

03

PERSADIN Perkuat SDM Hukum, Program PKPA dan Paralegal Diserbu Peminat

04

Manjakan Lidah Pecinta Kuliner Jawa Timur, Warung PLAT AE Boyong Tahu Telor Petis Otentik Madiun ke Bandung

05

Lewat Sport Tourism, Bank BJB Bandoeng 10K Perkuat Ekonomi dan Sinergi Antarkota



Pilihan Editor

×
×