Pendidikan
Beranda / Pendidikan / SMP Setia Bhakti Bandung Terapkan Program Kreatif, dari RMP hingga Kelas Bahasa Jepang

SMP Setia Bhakti Bandung Terapkan Program Kreatif, dari RMP hingga Kelas Bahasa Jepang

SMP Sakti Bhakti Kota Bandung Sekolah Berkualitas di Bandung
Kepala SMP Setia Bhakti Kota Bandung, Nadrotunnaim, S.Kep., Ners

Kota Bandung – SMP Setia Bhakti telah menggelontorkan dana program Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP) tahun 2025 yang digulirkan Pemerintah Kota Bandung setiap tahunnya.

Kepala SMP Setia Bhakti Kota Bandung, Nadrotunnaim, S.Kep., Ners. yang akrab disapa Naim, menyampaikan rasa syukur atas bantuan tersebut.

“Alhamdulillah kami mendapatkan bantuan RMP kembali yang tentunya sangat membantu sekali. Mudah-mudahan program ini akan terus berlanjut,” kata Naim kepada awak media FWP, di ruang kerjanya Jalan Kawaluyaan No 12, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Buahbatu, Selasa (2/9/2025).

Sekolah yang dipimpinnya mendapatkan bantuan RMP bagi 360 siswa. Alokasinya untuk biaya operasional dan personal.

SMP Setia Bhakti Kota Bandung, pada peningkatan kualitas guru

BabatuRun Ganesha 2026 Meriahkan HUT ke-31 Kodiklat TNI AD, Farhan: Olahraga Satukan Kota

Alokasi dana operasional, digunakan sesuai dengan arahan juknis RMP, dialokasikan untuk gaji guru, sarana-prasarana, dan modal.

Gaji guru dianggarkan sebesar 35,9 persen. Modal, dibelanjakan di atas 30 persen (berdasarkan juknis minimal 30 persen). Untuk sarana-prasarana, digunakan untuk pengecatan lapangan upacara, pemasangan atap aula, serta pemeliharaan gedung berupa pengecatan lorong-lorong.

Sedangkan dana personal telah dibagikan langsung kepada orangtua siswa, untuk membeli seragam, alat tulis, tas, sepatu, dan kebutuhan sekolah lainnya.

“Orangtua sangat antusias karena tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Kalau tahun sebelumnya bentuknya bukan uang, melainkan langsung barang. Sedangkan di tahun ini bentuknya uang sejumlah 600 ribu rupiah per siswa. Alhamdulillah itu juga sudah kami bagikan.”

Sarana prasarana memadai, membuat nyaman belajar siswa SMP Setia Bhakti Kota Bandung

Kwarcab Kabupaten Bandung Bekali Kepala TK dengan Orientasi Pramuka untuk Penguatan Karakter Anak

“Dan kami juga sedang menunggu para orangtua untuk menyerahkan nota pembelanjaan yang diharuskan, guna keperluan sekolah anaknya,” tambah Naim.

Meski begitu, masih ada orangtua yang salah membelanjakan bantuan, misalnya membeli sepatu non-sekolah. Untuk itu pihak sekolah memanggil kembali agar pembelanjaan sesuai kriteria. Namun pada akhirnya, seluruh orangtua dapat menyesuaikan dengan aturan yang ada.

Naim berharap nominal bantuan RMP tahun depan bisa meningkat, minimal kembali ke angka empat juta rupiah per siswa seperti beberapa tahun ke belakang.

Program Pendidikan Terdekat

Jumlah siswa SMP Setia Bhakti saat ini tercatat ada sekitar 500 orang. Terdiri dari 5 kelas IX, 6 kelas VIII, dan 4 kelas VII. Rata-rata setiap rombongan belajar berisi 30–33 orang siswa.

Strategi Besar SMKN 2 Bandung Hadapi TKA 2026: Cetak Generasi Waluya yang Kompeten dan Siap Bersaing Global

Suasana kegiatan belajar mengajar di SMP Setia Bhakti Kota Bandung

Meski jumlah siswa baru 2025 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi tersebut tertutup oleh banyaknya mutasi masuk, baik dari sekolah lain maupun anak yang baru melanjutkan ke SMP.

Berdasarkan rapor pendidikan, SMP Setia Bhakti kini fokus pada peningkatan kapasitas guru. Naim menargetkan pelatihan terkait Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) agar guru dapat menghadirkan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan.

Di samping itu, guru juga akan difasilitasi pelatihan koding dan kecerdasan buatan (AI).

Integrasi Ekskul dengan Mata Pelajaran

Untuk menghindari kejenuhan siswa saat KBM, pihaknya berencana mengintegrasikan pelajaran dengan kegiatan ekstrakurikuler.

Tercatat ada lebih dari 500 orang, jumlah siswa SMP Setia Bhakti Kota Bandung, pada tahun ajaran 2025/2026

“Kalau belajar di kelas itu monoton dan membuat bosan. Rencananya kami akan kolaborasikan dengan ekskul, agar pembelajarannya terintegrasi antara mata pelajaran dengan ekskul.”

“Contohnya pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran Bahasa Indonesia bisa masuk ke dalam semua ekskul. Misalnya dikaitkan dengan Seni Budaya, mereka bisa mempresentasikan kearifan lokal budaya Sunda dengan menggunakan kaidah bahasa, Bahasa Indonesia,” jelas Naim.

Hal ini dilakukan karena masih banyak siswa yang menggunakan bahasa sehari-hari kurang baik, khususnya dalam Bahasa Sunda. Dengan dukungan guru ekskul, sekolah berharap siswa lebih berkarakter sesuai visi misi: religius dan berkepribadian baik.

Di SMP Setia Bhakti terdapat beberapa Ekskul, seperti Paskibra, Palang Merah Remaja, Pencak Silat, Badminton, Futsal, Basket, Karawitan, Modern Dance, dan Traditional Dance.

Kolaborasi dengan SMK Setia Bhakti

Suasana kantin SMP Setia Bhakti Kota Bandung, saat Jam istirahat

Selain itu, SMP Setia Bhakti akan berkolaborasi dengan SMK Setia Bhakti. SMK ini sudah mengirim siswa magang ke Jepang dan memiliki kelas Bahasa Jepang yang diadakan setiap Sabtu.

Naim ingin SMP juga memiliki kelas Bahasa Jepang, khususnya untuk kelas IX. Materinya berupa pengenalan huruf hiragana dan katakana.

“Karena saya juga melihat kita ada sedikit kemiripan dengan budaya Jepang. Seperti ramahnya Sunda itu mirip dengan budaya membungkuk di Jepang, itu klop. Kami ingin perkenalkan kepada siswa SMP,” ujar Naim.

Dukungan untuk Siswa Kurang Mampu

Selain itu, melihat latar belakang siswa SMP Setia Bhakti yang mayoritas berasal dari keluarga menengah ke bawah, banyak di antara mereka yang terbantu melalui program DTKS, KIP, serta berbagai bantuan lainnya.

Sarana prasarana SMP Setia Bhakti Kota Bandung, terus ditingkatkan

Namun, masih terdapat lebih dari 100 siswa yang belum memiliki dokumen lengkap sehingga kesulitan dalam mengakses bantuan tersebut. Sebagai solusi, sekolah menghadirkan inovasi berupa program titip jajanan di kantin sekolah.

“Kami memiliki inovasi untuk membantu orangtua. Salah satunya adalah orangtua suswa menitipkan jajanan ke kami para guru, boleh apapun. Misalnya ada yang bikin cilok. Jangan sampai ada yang berjualan makanan yang sama, nanti berbentrokan soalnya,” kata Naim.

Skemanya, dari harga Rp 1.500 per makanan, Rp 500 digunakan untuk cicilan SPP siswa dan Rp1.000 dikembalikan ke orangtua sebagai modal usaha.

Naim menegaskan, tujuan program ini agar siswa tetap bisa bersekolah meskipun orangtua terkendala persyaratan administrasi. (FWP)***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *