FWPJABAR.COM, BANDUNG – Menjamurnya kedai kopi modern di Kota Bandung tidak menyurutkan langkah Bambang Eko Prasetyo, pemilik Choen Coffee & Tea, untuk terus berinovasi. Jatuh bangun pria yang akrab disapa Mas Eko ini dalam menyelami industri kopi lokal menyimpan kisah perjalanan unik yang dimulai dari sebuah trotoar di Tangerang Selatan hingga akhirnya sukses membangun ekosistem kopi mandiri di Kota Kembang.
Kini, aroma harum kopi racikannya bisa dijumpai langsung di kawasan legendaris Pasar Buku Palasari, Jalan Pasar Palasari, Bandung. Kedai ini siap menyambut para pencinta kopi mulai dari jam 10 pagi hingga larut malam.
Memulai peruntungan pada tahun 2015 di kawasan Pamulang, usaha kopinya saat itu masih berstatus sebagai bisnis kaki lima. Nama “Choen” (dibaca: Cun) sendiri memiliki ikatan emosional yang kuat dengan keluarganya. Diambil dari nama sang istri dan mertuanya yang bermarga “Kun”, Eko kemudian memodifikasi ejaannya agar terasa lebih universal dan bisa dinikmati oleh semua kalangan.
“Kalau kata orang China, ‘Cun’ itu artinya makmur. Jadi ya pas-pas aja namanya,” kenang Eko saat menceritakan filosofi di balik nama kedainya.
Hantaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu memaksa Eko memutar kemudi bisnisnya. Ia memutuskan hijrah ke Bandung dan mendirikan kedai Choen Coffee & Tea, yang pada September besok genap menginjak usia 5 tahun. Siapa sangka, keputusan pindah ke kawasan Palasari tersebut justru menjadi titik balik kesuksesan bisnisnya yang berkembang jauh lebih pesat ketimbang saat di Pamulang.
Berawal dari Penasaran dan “Ejekan” di Aceh
Ketertarikan Eko pada kopi sejatinya sudah tertanam sejak ia masih duduk di bangku kelas 1 SD, di mana sang orang tua mewajibkannya minum kopi susu dicampur Scott’s Emulsion agar bisa mendapatkan uang jajan. Namun, titik balik yang membuatnya benar-benar ingin terjun ke industri ini justru lahir dari sebuah rasa penasaran mendalam saat ia berkunjung ke Aceh pada 2005.
“Saya datang ke coffee shop, minta kopi hitam datangnya pahit. Saya minta gula malah diketawain, disuruh minum kopi saset aja,” cerita Eko sembari tersenyum.
Rasa heran mengapa kopi murni tanpa gula memiliki rasa pahit yang jauh berbeda dan lebih berkarakter dibanding kopi instan memicu Eko untuk belajar secara otodidak. Ia melahap berbagai literatur, mencocokkan teori buku dengan pengalaman para pakar, hingga memahami variabel sensitif kopi seperti tingkat kehalusan gilingan, suhu air, hingga teknik pasca-panen. “Gara-gara penasaran coba belajar-belajar, akhirnya bisa jadi duit,” imbuhnya.
Menjadi Rumah bagi Pencinta Kopi Puntang dan Jasa Roastery
Di bawah bendera Choen Coffee & Tea, bisnis Eko kini tidak lagi sekadar menjual segelas kopi di meja bar. Lini usahnya telah merambah hulu ke hilir, mulai dari penyediaan biji mentah (green bean), proses pasca-panen, hingga jasa penyangraian (roastery).
Bandung yang dikenal memiliki basis massa penikmat kopi lokal yang kuat membuat Eko memprioritaskan varietas Arabika dan Robusta lokal, khususnya Kopi Puntang yang menjadi primadona di kedainya. Saban hari, kedainya yang berlokasi di area Pasar Palasari tidak pernah sepi dari hilir mudik pemilik kafe dan reseller.
“Kalau sehari 10 kilo saja mah lebih. Bisa 20 sampai 30 kilo yang keluar, belum lagi orang yang pakai jasa roasting atau minum langsung di sini,” jelasnya mengenai tingginya antusiasme pasar.
Selain itu, Choen Coffee & Tea juga menyediakan inovasi produk lain seperti drip coffee (kopi tetes), layanan rebrand (kemas ulang), hingga produk teh yang mulai ia perkenalkan perlahan kepada konsumen.

Filosofi One Brew, We Bro dan Rencana Kopi Saset Premium
Choen Coffee & Tea memegang teguh slogan “One Brew, We Bro”—satu seduhan kita bersaudara. Bagi Eko, kedai kopi adalah tempat magis di mana manusia bisa saling menghargai perbedaan tanpa perlu berkonflik. Terbukti, ekspektasi awalnya yang hanya sekadar mencari nafkah lewat jual-beli justru melahirkan berbagai komunitas baru yang hangat di lapak Palasari tersebut, mulai dari anak sekolah, komunitas basket, hingga bapak-bapak yang gemar berdiskusi hingga larut malam.
Bicara soal daya saing kopi Indonesia, Eko sangat optimistis bahwa kekayaan alam nusantara tidak akan pernah kalah dari luar negeri. Namun, ia memberikan catatan kritis bagi para pelaku industri lokal agar menjaga konsistensi proses produksi, seperti durasi penjemuran biji yang tidak boleh dikurangi demi mengejar target waktu.
Menatap masa depan, Eko sudah menyusun rencana matang untuk melebarkan sayap bisnisnya. Fokus berikutnya adalah menggeber kembali produk kopi saset format 2 in 1 premium miliknya serta membuka kelas pelatihan edukasi kopi.
“Logika saya itu cuma begini, Tuhan itu menciptakan kopi agar kita semua bersaudara,” tutup Eko hangat.


Komentar