FWPJABAR.COM, BANDUNG – Darurat kemanusiaan melanda wilayah Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pasca gempa bumi dahsyat magnitudo 7,7 yang memporak-porandakan Flores. Institut Teknologi Bandung melalui aksi ITB Peduli bersama Rumah Amal Salman terjun langsung ke titik terparah di Kecamatan Reok untuk mengantisipasi krisis pengungsian. Kehadiran akademisi ini berfokus menjawab kebutuhan paling mendesak penyintas: hunian darurat dan air bersih.
Tim gabungan memetakan kerusakan secara mendalam sebelum mengeksekusi program tanggap darurat. Sebanyak 15 unit tenda keluarga dan komunal kini telah berdiri kokoh di Reok, Ronting, serta Pota. Inovasi shelter darurat ITB ini dirancang khusus oleh pakar arsitektur ITB, Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko.
Memanfaatkan struktur kerangka A-frame berbahan 12 batang bambu lokal, desain tersebut terbukti efisien, cepat dirakit, murah, sekaligus menghadirkan ruang lapang dan nyaman bagi keluarga pengungsi. Warga setempat bahkan dilibatkan langsung dalam pelatihan konstruksi agar mampu merakit tenda secara mandiri menggunakan peralatan sederhana.

Selain tempat berlindung, krisis sanitasi di posko pengungsian Ronting yang dihuni 500 jiwa diatasi melalui instalasi pipa HDPE, enam hidran umum, serta dua tandon air berkapasitas total 4.400 liter. Program kemanusiaan ini turut mendapat apresiasi tinggi dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, saat meninjau langsung lokasi penanganan bencana pada 25 Agustus lalu.
Kolaborasi masif terus diperluas bersama FK UI dan Paragon Corp untuk mendirikan fasilitas kesehatan darurat. Misi lanjutan ITB Peduli NTT menargetkan pembangunan hingga 150 shelter, 5 Instalasi Pengolahan Air (IPA), distribusi ratusan paket sembako serta hygiene kit, ekspansi jaringan pipanisasi, hingga pendampingan teknis berkelanjutan demi memulihkan kehidupan masyarakat Flores secara utuh.***


Komentar