“Alhamdulillah, ini sudah masuk siklus panen keempat. Pada tahap awal kami hanya mencoba menanam dua kilogram bibit, namun saat ini hampir seluruh jengkal lahan kosong sudah tertutup tanaman bawang merah yang subur,” kata Ridwan.
Perjalanan mengelola lahan wakaf ini diakui Ridwan melewati proses trial and error yang dinamis. Sebelum menetapkan bawang merah sebagai produk unggulan, pihak DKM sempat menguji coba beberapa sektor usaha lain seperti peternakan ayam, budidaya ikan lele, penanaman sayur organik, hingga budidaya jamur tiram.

“Untuk peternakan ayam terpaksa kami hentikan karena tingginya biaya pakan tidak sebanding dengan harga jual pasaran. Sektor perikanan lele masih berjalan, sementara sayuran kurang memiliki nilai ekonomis jangka pendek. Dari semua opsi, bawang merah terbukti paling menjanjikan dan keuntungannya langsung dialokasikan untuk kas masjid serta pemberdayaan jemaah,” jelasnya.
Menariknya, untuk komoditas jamur yang sempat mengalami penurunan tren panen pada fase kedua, pihak DKM mengambil langkah inovatif dengan melakukan hilirisasi produk. Jamur tiram segar kini diolah menjadi camilan bernilai ekonomi tambah berupa jamur krispi kemasan dengan empat varian rasa kekinian, yakni original, keju, barbeque (BBQ), dan pedas.
Melalui lompatan usaha ini, Ridwan berharap fungsi masjid dapat meluas tidak hanya sebagai episentrum ibadah ritual semata, melainkan menjelma sebagai pusat perputaran ekonomi umat.
Dukungan Stimulan dari Buruan Sae
Keberhasilan inovasi ini mendapat apresiasi positif dari Pemerintah Kota Bandung melalui Koordinator Penyuluh Buruan Sae DKPP Kota Bandung, Ucu Nurhasanah. Pihaknya menyatakan telah mengawal program reforma agraria ini selama tiga tahun terakhir dengan fokus pada kemandirian pangan tingkat keluarga.
“Inovasi budidaya bawang merah di lahan Wakaf Hijau ini tergolong sangat sukses dan memiliki nilai keekonomian yang jauh lebih stabil dibanding komoditas holtikultura lainnya. DKPP berkomitmen untuk terus menyalurkan bantuan sarana prasarana serta pembinaan teknis lanjutan agar kelompok tani masjid ini bisa segera naik kelas menjadi kelompok yang mandiri,” pungkas Ucu.***


Komentar