“Divergensi manifestasi klinis ini murni dipengaruhi oleh perbedaan ordinat jenis tikus pembawa serta variasi strain virus yang berkembang di masing-masing teritorial dunia,” jelasnya.

Dinkes Bandung: Pengawasan Ketat di Kota Bandung
Mengingat populasi tikus kerap bersinggungan dengan permukiman padat perkotaan, dr. Dadan mengingatkan pentingnya memperketat sanitasi lingkungan lewat Gerakan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Salah satu proteksi mendasar adalah dengan memutus rantai konsumsi makanan yang telah tercemar jejak tikus.
“Partikel virus ini memiliki kemampuan menginvasi tubuh lewat mukosa saluran pernapasan maupun saluran cerna. Oleh karena itu, jika mendapati makanan atau wadah yang terindikasi kuat telah tersentuh, tergigit, atau terkena kotoran tikus, segera buang dan jangan dikonsumsi,” imbaunya.
Kabar baiknya, berbeda dengan pola pandemi, hingga detik ini belum ditemukan manifestasi transmisi hantavirus dari manusia ke manusia (human-to-human transmission). Alhasil, jika ditemukan kasus, pelacakan epidemiologi akan langsung difokuskan pada pembenahan ekosistem lingkungan lokal.
Guna mengantisipasi potensi ancaman, Dinkes Kota Bandung sebetulnya telah mengoperasikan sistem pemantauan berkala (sentinel) untuk mengawasi penyebaran penyakit zoonosis seperti leptospirosis dan hantavirus, bekerja sama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Setiap pasien yang menujukkan indikasi gejala serupa akan langsung menjalani uji laboratorium konfirmatoris.
Lebih lanjut, tim surveilans Dinkes secara berkala terus melakukan trapping (penangkapan) sampel tikus di berbagai sudut kota untuk diuji klinis di laboratorium. Berdasarkan pemetaan data mutakhir dari tahun 2025 hingga Mei 2026, seluruh hasil spesimen tikus di Kota Bandung menunjukkan hasil negatif hantavirus.
“Sejauh ini hasil surveilans biologis terhadap sampel tikus di Bandung masih nihil atau negatif virus hanta. Walau demikian, intervensi pengawasan tidak boleh kendor, karena probabilitas adanya vektor pembawa yang belum terpetakan di lapangan tetap harus diantisipasi,” tegas dr. Dadan.
Sebagai penutup, Dinkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan domestik rumah, memastikan wadah saji makanan di tempat umum tertutup rapat, serta menggalakkan aksi pemberantasan sarang tikus guna meminimalisasi risiko penyebaran penyakit zoonosis di Kota Kembang.***


Komentar