FWPJABAR.COM, KAB. CIAMIS — Pondok Pesantren Nurul Hidayah Malabar yang berlokasi di Jalan Malabar, Desa Sidamuli, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menghadirkan terobosan pendidikan yang memadukan kurikulum Kementerian Agama dengan muatan lokal kewirausahaan (entrepreneurship). Langkah strategis ini dirancang untuk melahirkan generasi santri yang tidak hanya matang dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi.
Di bawah kepemimpinan Dr. Hj. Cici Handritin, S.Sos., M.Pd., lembaga pendidikan ini menaungi jenjang formal Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Para santrinya tidak hanya datang dari wilayah Pamarican dan Kabupaten Ciamis saja, melainkan juga dari berbagai daerah di luar kabupaten. Untuk menunjang kenyamanan belajar santri luar daerah, pihak pesantren telah menyediakan fasilitas asrama putra dan putri yang representatif.

Kurikulum Integratif: Keagamaan, Bahasa, dan Vokasi
Selain memperkuat ilmu-ilmu keagamaan, para santri dibekali dengan penguasaan bahasa asing, yakni Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, serta keterampilan teknologi informasi melalui pelatihan komputer. Hal ini disiapkan untuk mendukung program unggulan baru di tahun ajaran ini yang berfokus pada tiga pilar utama: program dakwah, program wirausaha, dan program bahasa.

Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hidayah Malabar, Dr. Hj. Cici Handritin, menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen membekali santri dengan berbagai keahlian praktis melalui sinergi dengan dunia industri dan program pemerintah.
“Alhamdulillah, kami berproses mencerdaskan para santri melalui berbagai pelatihan. Mulai dari pelatihan jahit desain tekstil dan mode hasil kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan (BLK), pengelolaan puluhan kolam pembibitan ikan gurame dengan kapasitas belasan ribu ekor, hingga budidaya pertanian seperti cabai dan pisang,” ujar Cici.

Tidak hanya itu, pesantren ini juga merambah sektor hilirisasi produk lokal dengan memproduksi air minum ber-pH tinggi alami (9+) bermerek CNH (Cai Nurul Hidayah) yang telah mengantongi legalitas lengkap. Produk air minum ini bahkan sukses menyabet penghargaan sebagai juara di Jawa Barat dalam program One Product One Pesantren (OPOP) dan kini tengah bersiap memperluas jangkauan distribusi ke berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Solo, Madiun, Yogyakarta, hingga Cirebon.
Sinergi UMKM dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Sidamuli
Komitmen kewirausahaan di Pondok Pesantren Nurul Hidayah turut melibatkan partisipasi aktif masyarakat sekitar. Desa Sidamuli yang dikenal sebagai sentra penghasil gula aren dan produk pertanian diintegrasikan ke dalam ekosistem bisnis pesantren. Melalui kolaborasi bersama ibu-ibu majelis taklim dan para pelaku UMKM lokal, pesantren menghimpun produk unggulan seperti gula aren cetak dan gula semut, selai pisang, hingga keripik kaca untuk dikemas bersama di pusat pelatihan pesantren.

Kepala Desa Sidamuli, Hadli, menyambut baik dan memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif kolaboratif yang diinisiasi oleh Pondok Pesantren Nurul Hidayah.
“Kami selaku Kepala Desa Sidamuli mendukung sepenuhnya rencana pesantren yang mengkolaborasikan dunia pendidikan dengan potensi UMKM warga kami, seperti pengolahan gula aren dan keripik pisang. Kami mengucapkan terima kasih atas gagasan luar biasa ini untuk meningkatkan perekonomian lokal,” ungkap Hadli.
Pengalaman Positif dari Santri dan Alumni
Model pendidikan yang aplikatif ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para santri aktif. Salah satunya diungkapkan oleh Husna Auliya, seorang santri yang mengaku sangat terbantu dengan ragam program keterampilan yang disediakan pesantren.

“Saya sangat senang karena mendapatkan banyak pengalaman, mulai dari pendalaman ilmu agama, belajar komputer, bahasa asing, hingga praktik langsung di bidang kewirausahaan seperti menjahit, pertanian, perikanan, dan pengemasan air mineral,” kata Husna.
Kesan serupa juga disampaikan oleh Intan Nurfadilah, seorang alumni yang kini dipercaya mengemban posisi sebagai Assistant Manager Operasional di unit usaha PTNH Mulia Sejahtera. Menurutnya, pesantren tidak hanya mengajarkan teori keagamaan, melainkan juga menempa mental kepemimpinan dan keterampilan praktis (soft skills).

“Di sini santri didukung untuk percaya diri dan mengembangkan kemampuan public speaking. Saya sendiri diberikan kepercayaan oleh pimpinan untuk ikut mengembangkan unit usaha pesantren. Ini membuktikan bahwa program unggulan di Nurul Hidayah benar-benar menyiapkan santri untuk siap terjun ke masyarakat,” pungkas Intan.
Dengan kombinasi pendidikan agama yang kuat, kecakapan multibahasa, serta ekosistem kewirausahaan yang mandiri, Pondok Pesantren Nurul Hidayah Malabar terus memantapkan posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam terdepan dalam mencetak generasi muda yang kompeten dan berdaya saing tinggi.***


Komentar