FWPJABAR.COM, BANDUNG – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) bekerja sama dengan Asosiasi Komite Satuan Pendidikan Indonesia (AKSPI) Kota Bandung sukses menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan pada Kamis (6/8/2026) di Bandung. Forum edukatif yang berlangsung dengan penuh antusiasme ini mengangkat tema “Pancasila sebagai Ideologi Negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai Konstitusi Negara serta Ketetapan MPR RI, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Bentuk Negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara”.
Agenda besar ini dihadiri langsung oleh Anggota Badan Sosialisasi MPR RI diantaranya Nurul Arifin, S.Sos., M.Si., dan Ir. Dwita Ria Gunadi, M.IKom., Ketua Umum AKSPI Drs. H. Bambang Haryono, Ketua AKSPI Jawa Barat, serta Ketua AKSPI Kota Bandung. Turut hadir pula jajaran perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan Dinas Pendidikan Kota Bandung, para pengurus komite sekolah, tenaga pendidik, hingga ratusan pengurus OSIS tingkat SMA dan SMP se-Bandung Raya.

Nurul Arifin Soroti Ancaman Digital, Disinformasi, hingga Bahaya Echo Chamber
Dalam pemaparan utamanya, Anggota Badan Sosialisasi MPR RI Nurul Arifin menyampaikan keprihatinan serta kepeduliannya yang mendalam terkait pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial yang kini menjadi pisau bermata dua bagi generasi muda. Menurutnya, meski teknologi membawa kemudahan edukasi dan akses informasi global, dampak negatif berupa maraknya disinformasi, penyebaran berita bohong (hoax), fitnah, hingga aksi cyberbullying telah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan.
Secara khusus, Nurul Arifin menyoroti penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kerap dimanfaatkan secara manipulatif—seperti merekayasa wajah dan suara—untuk menipu masyarakat. Lebih lanjut, ia juga memperingatkan bahaya jebakan echo chamber dan kontrol algoritma media sosial yang tanpa disadari mendikte pola pikir, mengikis nilai-nilai budaya lokal, serta memicu perilaku asosial, konsumtif, dan narsistik pada anak muda. Rekam jejak digital di media sosial bahkan kini menjadi parameter riil, mulai dari proses seleksi dunia kerja hingga pengajuan visa luar negeri.
“Empat pilar—Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI—sebetulnya jika kita ejawantahkan dan terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, sudah sangat cukup untuk membentengi moralitas bangsa. Kita jangan sampai menghamba pada teknologi atau platform digital. Gaya hidup yang ditebarkan media sosial jangan sampai membuat anak-anak muda kehilangan jati dirinya dan sekadar menjadi alat bagi para pemilik modal,” tegas Nurul Arifin.
Ia menambahkan bahwa Pancasila telah mengakomodasi seluruh nilai etika, moral, dan kebudayaan bangsa. Oleh karena itu, pemahaman yang kokoh terhadap ideologi dan konstitusi negara merupakan filter serta fondasi terbaik bagi para pelajar dalam menyaring pengaruh negatif, propaganda, maupun upaya memecah belah bangsa di ruang digital.
Sinergi Komite Sekolah dan Penguatan Karakter Siswa
Sementara itu, Ketua Umum AKSPI Drs. H. Bambang Haryono menekankan pentingnya penguatan peran komite sekolah dalam ekosistem pendidikan nasional, terutama dalam menjaga transparansi pengawasan program Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Bambang juga menegaskan bahwa pelibatan pengurus OSIS dalam acara ini bertujuan untuk mendorong pelajar agar tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi menjadi subjek aktif dalam pembentukan karakter dan mutu sekolah.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua AKSPI Kota Bandung Dandan Riza Wardana menyampaikan bahwa kolaborasi bersama MPR RI ini merupakan wujud komitmen nyata asosiasi dalam mendukung keterlibatan seluruh elemen masyarakat di dunia pendidikan.
“Kami sengaja mengundang para siswa, ketua komite sekolah, dan para guru agar pesan kebangsaan ini bisa meresap secara langsung. Ini adalah aksi nyata dari AKSPI Kota Bandung untuk terus berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga sendi-sendi kemasyarakatan dari tingkat satuan pendidikan,” jelas Dandan.

Implementasi Nyata bagi Generasi Muda
Melalui gelaran sosialisasi ini, MPR RI bersama AKSPI berharap nilai-nilai Empat Pilar tidak sekadar dihafalkan sebagai teori kebangsaan dalam ruang kelas. Para pelajar dan generasi muda di Jawa Barat diharapkan dapat mempraktikkan toleransi, keadilan, serta kesadaran berbangsa dan bernegara dalam interaksi sehari-hari—baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dalam bertutur kata dan beretika di ruang digital.***


Komentar