SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kampus
Beranda / Kampus / REVOLUSI HIJAU DARI RUANG KELAS: STRATEGI AKADEMISI BIOLOGI DALAM MEMBANGUN BIOEKONOMI BERKELANJUTAN DI INDONESIA

REVOLUSI HIJAU DARI RUANG KELAS: STRATEGI AKADEMISI BIOLOGI DALAM MEMBANGUN BIOEKONOMI BERKELANJUTAN DI INDONESIA

Dr. Ida Yayu Nurul Hizqiyah S.Pd . M.Si . Dosen Pendidikan Biologi Unpas Mempresentasikan Ekosistem Inovasi Bioekonomi Hijau
Dr. Ida Yayu Nurul Hizqiyah S.Pd . M.Si . Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNIVERSITAS PASUNDAN.

FWPJABAR.COM, BANDUNG – Di era yang menuntut transformasi pendidikan tinggi sekaligus penanganan serius terhadap krisis ekologi global, ruang kelas kini dituntut untuk tidak lagi sekadar menjadi tempat transfer teori semata. Diperlukan sebuah manifestasi nyata agar ilmu-ilmu kehidupan dapat diaplikasikan langsung dan membawa dampak konkrit bagi masyarakat luas. Semangat inilah yang direfleksikan oleh Dr. Ida Yayu Nurul Hizqiyah, S.Pd., M.Si., seorang dosen dari Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pasundan, Bandung. Ia secara konsisten mendedikasikan dedikasi akademisnya untuk menjembatani jurang antara sains murni dan dinamika sosial melalui serangkaian terobosan yang memadukan dimensi lingkungan, teknologi, budaya, dan penguatan ekonomi lokal. Setiap hasil pemikirannya tidak mandek dalam bentuk tumpukan diktat atau jurnal ilmiah semata, melainkan menjelma menjadi model ekosistem inovasi praktis yang dapat langsung diadopsi serta dikembangkan oleh masyarakat.

Melalui ruang-ruang akademik di Unpas, ia mengonseptualisasikan gagasan baru yang mendefinisikan ulang cara pandang kita terhadap sains biologi. Baginya, biologi bukan lagi sekadar hafalan rumit mengenai anatomi sel, struktur tumbuhan, atau siklus ekosistem mekanis, melainkan sebuah instrumen kehidupan dinamis yang mampu menjawab tantangan masyarakat urban masa kini. Manifestasi dari gagasan besar tersebut lahir melalui tiga inovasi yang saling berintegrasi dan menopang satu sama lain, yakni Artglasplanting, Pukcapedia, dan Parsel Hayati.

  • Artglasplanting merupakan sebuah kreasi mikroekologi estetis berbentuk ekosistem tanaman mini di dalam wadah kaca yang memadukan keindahan visual dengan prinsip ilmiah.
  • Pukcapedia hadir sebagai solusi pengelolaan lingkungan yang mengonversi limbah organik rumah tangga menjadi produk bioinput berbasis mikroba penyubur tanah.
  • Parsel Hayati mengemas produk hadiah fungsional berbasis tanaman hidup yang memadukan nilai keindahan, kesehatan, serta filosofi lokal.

Ketiga pilar inovatif ini berkolaborasi membentuk payung riset besar yang ia sebut sebagai Urban Green Bioeconomy Ecosystem (Ekosistem Bioekonomi Hijau Perkotaan).

Sambut HUT ke-80, Kodam III/Siliwangi Gelar Turnamen Padel “Siliwangi Open” di Bandung


Dr. Ida Yayu Nurul Hizqiyah S.Pd . M.Si . Dosen Pendidikan Biologi Unpas Mempresentasikan Ekosistem Inovasi Bioekonomi Hijau 2
Dr. Ida Yayu Nurul Hizqiyah, S.Pd., M.Si., seorang dosen dari Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pasundan, Bandung.

Kerangka Pikir Digital dan Reorientasi Pendidikan Sains

Kendati demikian, keunggulan dari pendekatan yang digagas oleh Dr. Ida Yayu ini terletak pada fondasi metodologi berpikir di belakangnya, bukan sekadar pada produk fisik yang dihasilkan. Dalam proses hilirisasi risetnya, ia memperkenalkan sebuah model kompetensi yang dinamakan Digital Habits of Mind (Digital HoM) Framework Hizqiyah. Kerangka kerja konseptual ini memuat 21 indikator kecakapan berpikir ilmiah berbasis digital. Melalui instrumen ini, penekanan utama diletakkan pada ketajaman memverifikasi validitas data, kapasitas memecahkan problematisasi yang kompleks, kemampuan analisis berskala global, hingga kelihaian dalam melakukan komunikasi biologi berbasis platform digital. Di tengah arus informasi yang bergerak masif namun kerap kali tidak valid, kompetensi semacam ini krusial bagi generasi muda agar mereka tidak sekadar memosisikan diri sebagai konsumen teknologi, melainkan bertindak sebagai kurator sekaligus kreator solusi berbasis sains tepercaya.

Jika ditarik ke dalam ranah pedagogis, formulasi gagasan ini membawa pembaruan fundamental dalam metode pengajaran biologi di institusi pendidikan. Pelajaran sains tidak lagi diidentikkan dengan tumpukan materi normatif yang menjemukan, melainkan bertransformasi menjadi ruang simulasi berpikir kritis yang berpijak pada realitas keseharian. Berkat strategi pembelajaran kontekstual ini, para siswa di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) didorong untuk melompat lebih jauh: mereka tidak hanya menghafal siklus lingkungan tetapi dilatih merancang ekosistem mandiri; tidak sekadar mengeluhkan problem sampah melainkan mampu mengonversinya menjadi komoditas ekonomi; serta tidak cuma menghafal keanekaragaman hayati melainkan cakap mengelolanya menjadi peluang wirausaha hijau berbasis biodiversitas regional.

Lebih jauh lagi, spektrum penelitian ini bermuara pada rekonstruksi profil guru biologi masa depan. Model yang ditawarkan adalah lahirnya sosok pendidik yang tidak sekadar berdiri di depan papan tulis, melainkan mengambil peran strategis sebagai inovator dan pelaku green entrepreneurship berbasis ilmu pengetahuan. Guru dituntut bertransformasi menjadi fasilitator andal yang cakap menghubungkan ruang-ruang kelas dengan sektor industri, isu lingkungan, serta kebutuhan riil publik. Lewat pendekatan transformatif ini, institusi sekolah akan berubah fungsi menjadi laboratorium hidup (living laboratory), di mana proses transfer ilmu berjalan melalui eksperimen nyata, bukan lagi sekadar pemaparan teori satu arah di dalam ruangan tertutup.

Dampak Ganda PHTC Presiden Prabowo: Revitalisasi SDN Leuwibatu 02 Bogor Serap Tenaga Kerja Lokal

Dr Ida Yayu Nurul Hizqiyah Inovasi Bioekonomi Unpas 2

Harmoni Sains Modern dengan Budaya Lokal Tatar Pasundan

Sisi menarik lain dari rancangan besar ini adalah adanya perkawinan yang harmonis antara sains modern dengan kearifan lokal (indigenous knowledge). Pemanfaatan vegetasi keluarga sirih-sirihan khas Tatar Pasundan yang menjadi komoditas utama dalam ekosistem inovasi ini tidak sekadar dipandang sebagai objek botani semata. Lebih dari itu, tanaman tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari identitas kultural Sunda yang telah mengakar sejak lama di masyarakat. Melalui eksplorasi ilmiah ini, terbukti bahwa keanekaragaman hayati lokal bukanlah simbol ketertinggalan zaman, melainkan justru menjadi pilar utama bagi pembangunan ekonomi hijau masa depan yang tangguh dan berkelanjutan.

Laman: 1 2 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Populer Bulan Ini

Pilihan Editor

×
×