FWPJABAR.COM, BOGOR – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang diinisiasi melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto sukses mengubah wajah infrastruktur pendidikan di pelosok daerah. Salah satu bukti nyatanya terlihat di SD Negeri Leuwibatu 02 dan SD Negeri Leuwibatu 03, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang kini kondisinya telah berubah total setelah setahun lalu didera keterbatasan fasilitas.
Sebelumnya, para siswa di kedua sekolah tersebut harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang tidak layak dengan kondisi atap bocor serta dinding retak. Kini, gedung sekolah telah berdiri kokoh dengan ruang kelas yang aman, halaman yang luas, fasilitas sanitasi yang higienis, serta perabot penunjang belajar yang baru. Berdasarkan kebijakan terbaru, kedua sekolah tersebut kini telah resmi digabung di bawah nama SDN Leuwibatu 02.
Kepala SDN Leuwibatu 02, Sudrajat, menjelaskan bahwa proyek pembangunan yang dimulai sejak Juli 2025 ini tidak hanya memperbaiki fisik sekolah, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi warga sekitar. Proses pembangunan sengaja melibatkan masyarakat dan komite sekolah secara aktif.
“Sejak awal pembangunan, kami berkomitmen untuk memberdayakan warga setempat. Komite dan masyarakat kami libatkan langsung, dan alhamdulillah mereka sangat membantu kelancaran proses ini,” ujar Sudrajat saat ditemui di lingkungan sekolah, Rabu (10/6/2026).
Melalui alokasi anggaran PHTC, SDN Leuwibatu 02 mendapatkan dana sebesar Rp2,1 miliar untuk membangun enam ruang kelas baru, satu unit toilet, serta merehabilitasi tiga ruang kelas. Sementara itu, unit yang sebelumnya bernama SDN Leuwibatu 03 memperoleh kucuran dana Rp1,5 miliar untuk pembangunan tiga ruang kelas baru, satu ruang administrasi, serta perbaikan empat ruang kelas.
Perubahan signifikan ini disambut antusias oleh para tenaga pendidik. Nurul Komariyah, salah satu guru kelas 2 di sekolah tersebut, mengungkapkan bahwa fasilitas baru ini mendongkrak semangat belajar para siswa.
“Anak-anak sangat gembira dan menjadi jauh lebih bersemangat. Kami para guru juga semakin termotivasi setiap pagi. Sebelum proyek ini rampung, mereka terus bertanya kapan bisa menempati gedung baru,” tutur Nurul.
Di tingkat pusat, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa proyek revitalisasi ini sengaja dirancang untuk memberikan dampak ekonomi ganda (multiplier effect). Pelaksanaan proyek mengusung sistem swakelola guna menyerap potensi lokal.
“Revitalisasi ini tidak sekadar memperbarui sarana edukasi, melainkan juga membuka lapangan kerja baru bagi warga. Pola swakelola mewajibkan penggunaan tenaga kerja lokal dan pembelian material dari toko-toko di sekitar sekolah,” kata Abdul Mu’ti.
Lebih lanjut, Mendikdasmen memaparkan bahwa pada tahun 2026 ini, pemerintah menargetkan perbaikan terhadap 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Dengan estimasi minimal 10 pekerja per sekolah, agenda besar ini diproyeksikan mampu menyerap sedikitnya 710.000 tenaga kerja lokal di berbagai wilayah.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyatakan bahwa pemerataan fasilitas ini merupakan representasi kehadiran negara dalam menjamin hak pendidikan anak bangsa.
“Ini adalah wujud nyata kepedulian dari pemerintah dan Bapak Presiden untuk mendongkrak mutu pendidikan kita. Seluruh anak di Indonesia, termasuk mereka yang berada di kawasan pinggiran, wajib mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas dan setara,” pungkas Pratikno.***
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah


Komentar