FWPJABAR.COM, BANDUNG — Menjelang usia 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, arah perjalanan bangsa dinilai memerlukan reorientasi mendalam. Ibarat sebuah kapal yang berlayar tanpa navigasi pasti, Indonesia dinilai masih tertinggal jika dikomparasikan dengan negara-negara yang usia kemerdekaannya setara atau bahkan lebih muda.
Kondisi faktual tersebut melahirkan sebuah paradoks jika disandingkan dengan cita-cita luhur Empat Tujuan NKRI yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Berangkat dari urgensi ini, diselenggarakan Seminar Kebangsaan bertajuk “Solusi Pencapaian Empat Tujuan NKRI Melalui Politik yang Berbudaya” sebagai ruang dialektika strategis.
Acara bergengsi yang diinisiasi oleh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) melalui Yayasan Alumni HMI (YAHMI) ini sukses digelar di Graha HMI Kota Bandung pada Sabtu, 1 Agustus 2026.
Acara ini dihadiri oleh deretan tokoh nasional lintas sektor, serta dimeriahkan pula oleh kehadiran para tokoh terkemuka dari Bandung Raya. Di antara para narasumber dan tokoh nasional yang hadir tampak Prof. Siti Fadilah Supari, Ir. H. Doddy Imron Cholid, M.S., Viva Yoga Mauladi, M.Si., Amich Alhumami, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, dan Nuzul Kristanto.

Tantangan Generasi Stroberi dan Krisis Kesehatan Remaja
Dalam seminar tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin, S.Sos., M.Ed., Ph.D., memaparkan berbagai tantangan mendasar yang dihadapi dunia pendidikan nasional.
“Semuanya serba instan, generasi stroberi. Kemudian dari kesehatan juga ada masalah besar. Memang ada yang stunting, tapi juga banyak yang kegemukan,” ujar Tatang.
Ia menyoroti bahwa tingkat obesitas mulai meningkat signifikan pada jenjang SMA, yang menjadi tantangan besar sebagaimana yang dihadapi negara-negara maju. Selain itu, ancaman digital seperti judi online, pornografi, narkoba, kecanduan gawai, hingga gangguan kesehatan mental yang menjangkiti satu dari tiga anak menjadi pekerjaan rumah bersama yang mendesak.
Urgensi Karakter dan Refleksi Potret Pendidikan
Guna menjawab tantangan tersebut, Kemendikdasmen mendorong penguatan karakter melalui pembiasaan sederhana namun konsisten, yakni Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang meliputi bangun pagi, berolahraga, makan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur tepat waktu.
Tatang juga menggarisbawahi bahwa faktor sosial-ekonomi dan social network (jaringan sosial) sangat berpengaruh terhadap capaian pendidikan serta serapan dunia kerja lulusan. Peran catur pendidikan—sekolah, keluarga, masyarakat, and media—menjadi kunci utama dalam membentuk ketahanan generasi masa depan.

Catatan dan Harapan Tokoh Nasional
Menanggapi substansi strategis yang dibahas dalam forum tersebut, Ketua Baznas RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., yang turut hadir sebagai tokoh nasional menyampaikan pandangannya melalui sesi wawancara khusus di penghujung acara.
“Luar biasa, sangat mendasar tentang 4 tujuan itu dan tadi dengan pendekatan pendidikan, pendekatan ekonomi dan lain-lain, yang penting adalah bagaimana terumuskan dengan baik, kemudian nanti ada tim yang baik dan bisa mendekat dengan baik kepada semua stakeholder, sehingga semua hasil-hasil diskusi ini bisa diimplementasi. Terkait Basnas, Keprioritasnya ke program apa ya Pak? Dua mungkin ya, yang pertama SDM, yang kedua ekonomi rakyat,” ujar Sodik Mudjahid.
Melalui seminar ini, gagasan dan solusi konkret diharapkan mampu dirumuskan secara berkelanjutan demi mewujudkan cita-cita besar bangsa serta memperkuat pilar pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi kerakyatan di Indonesia.***


Komentar