FWPJABAR.COM, KOTA BANDUNG — Ada yang seru di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Bandung, pada Sabtu, 26 September 2026. Puluhan keluarga tampak antusias memadati area hutan raya bukan sekadar untuk berwisata akhir pekan, melainkan mengikuti Eco-STEM Family Camp yang diinisiasi oleh Pusat Studi Kajian Pembelajaran STEM Universitas Katolik Parahyangan (Pusdi STEM UNPAR).
Di tengah potensi ancaman bencana alam yang mengintai wilayah dataran tinggi seperti Sesar Lembang, kegiatan ini mendobrak cara lama edukasi mitigasi. Mengusung tema “Pembelajaran Lapangan Berbasis STEM untuk Penguatan Literasi Ekologi dan Kesiapsiagaan Bencana Keluarga”, acara ini sukses menyulap laboratorium alam terbuka menjadi pusat pelatihan evakuasi mandiri yang interaktif.

Mengapa Kegiatan Ini Begitu Dinanti Warga?
Kegiatan akbar ini merupakan bagian penting dari implementasi Program Semesta In-Saintek 2026. Berbeda dari penyuluhan konvensional di dalam ruangan, para peserta yang terdiri dari puluhan keluarga diajak langsung merasakan pengalaman eco-exploration, eksperimen sains berbasis alam, hingga merakit Tas Siaga Bencana (TSB) sendiri.
Sekretaris Universitas, UNPAR BANDUNG, Sylvia Yazid, S.IP., MPPM., Ph.D., menegaskan bahwa sains dan riset kampus tidak boleh hanya berhenti di atas meja laboratorium, melainkan harus hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat.
“Jadi buat UNPAR, setiap ilmu yang kami kembangkan di kampus itu harus dipastikan bisa diabdikan kepada masyarakat. Harapannya dengan kami berkegiatan bersama warga sekitar, kita bisa siap bersama menghadapi kemungkinan bencana,” ungkap Sylvia.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pusdi STEM UNPAR, Christina Ester Manthalina Hutabarat, S.SI., M.SI., menyampaikan bahwa antusiasme warga luar biasa tinggi. Berkat dukungan dana hibah serta kolaborasi lintas pihak, target awal yang mulanya hanya 20 kepala keluarga (KK) membuncah hingga melibatkan sekitar 50 KK dari berbagai pengurus RT dan RW setempat.
Mendobrak Mitos: Sains Itu Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Selama ini, banyak orang tua menganggap Science, Technology, Engineering and Mathematics atau STEM sebagai kurikulum rumit yang hanya ditemui di bangku sekolah. Melalui Eco-STEM Family Camp, anggapan itu runtuh seketika.
Anak-anak bersama orang tuanya diajak memahami sains lewat simulasi praktis penjernihan air, pengenalan ekosistem hutan, hingga taktik mitigasi bencana harian yang aplikatif di rumah tangga.
“Supaya masyarakat paham bahwa STEM dan sains bukanlah sesuatu yang hanya dibahas di sekolah, tapi juga bisa disosialisasikan bahkan di rumah tangga dan lingkungan sekitar kita,” jelas Christina.

Menuju Puncak Rangkaian Semesta In-Saintek 2026
Kesuksesan perkemahan ekologi di Tahura Djuanda ini ternyata baru permulaan. Agenda keren ini akan berlanjut ke program Ambu Resik hingga malam puncak Festival STEM mendatang.
Melalui kolaborasi apik antara akademisi, dukungan pendanaan, dan kepedulian warga Kota Bandung, Eco-STEM Family Camp terbukti berhasil melahirkan keluarga-keluarga baru yang tidak hanya melek teknologi dan sains, tetapi juga memiliki mental tangguh menghadapi bencana serta cinta kelestarian lingkungan.***


Komentar