FWPJABAR.COM, BANDUNG — Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung resmi memiliki nakhoda baru. Dr. Ismet Ruchimat, S.Sen., M.Hum. ditetapkan sebagai Rektor ISBI Bandung Periode 2026–2030 setelah meraih kemenangan mutlak dalam Sidang Tertutup Senat Akademik yang digelar di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat ISBI Bandung, Jumat (4/9/2026).
Sidang tertutup tersebut dipimpin oleh Ketua Senat Akademik ISBI Bandung, Prof. Dr. Benny Y. Timmerman, S.Sen., M.Hum., serta dihadiri langsung oleh Kuasa Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Med. Setiawan, dr., selaku Sesditjen Dikti Kemdiktisaintek RI.
Dari total 18 anggota Senat Akademik yang diundang, 17 orang hadir sementara satu orang berhalangan karena sakit. Berdasarkan ketentuan pembobotan suara kepemimpinan PTN, pemilihan ini melibatkan 26 suara sah yang terdiri atas 65 persen atau 17 suara Senat Akademik dan 35 persen atau 9 hak suara dari pihak kementerian.
Dalam pemungutan suara tertutup terhadap tiga kandidat, seluruh 26 suara dinyatakan sah tanpa ada suara yang gugur. Berikut rincian perolehan suara masing-masing calon:
- Dr. Ismet Ruchimat, S.Sen., M.Hum. meraih 19 suara;
- Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, S.Ag., M.Hum., Ph.D. meraih 4 suara;
- Dr. Wanda Listiani, S.Sos., M.Ds. meraih 3 suara.
Berbekal perolehan 19 suara tersebut, Dr. Ismet Ruchimat dipastikan memegang kendali kepemimpinan kampus seni pelat merah ini untuk empat tahun ke depan. Ia dijadwalkan melangsungkan pelantikan resmi di Jakarta pada 8 September 2026 mendatang oleh Mendiktisaintek.

Fokus Lanjutkan Pilar Renstra dan Perluasan Lahan
Menanggapi amanah tersebut, Rektor Terpilih Dr. Ismet Ruchimat menegaskan komitmennya untuk mengutamakan kesinambungan program lembaga serta memperkuat daya saing internal sivitas akademika.
“Salah satu hal yang memang harus diutamakan adalah meneruskan program dari pilar Renstra yang sudah ada, yaitu ISBI Sahabat Jabar, ISBI Sanusantara, dan ISBI Ngajumantara. Itu menjadi prioritas utama lembaga yang harus dilanjutkan dalam restrukturisasi kepemimpinan saya ke depan.”
Selain menjaga kesinambungan program strategis, Ismet memaparkan prioritas kedua mengenai pengembangan sumber daya manusia (SDM) serta percepatan pembangunan fisik maupun akademik secara progresif. Ia juga menyoroti tantangan utama terkait keterbatasan lahan kampus utama di Buah Batu.
“Tantangan terberat bagi kami saat ini adalah ruang kepemilikan infrastruktur, terutama lahan. Luas area kampus di Buah Batu bahkan belum mencapai dua hektare. Oleh karena itu, kami berupaya memperluas jaringan melalui dukungan dari beberapa pemerintah daerah yang sangat potensial untuk menguatkan ISBI ke depan, seperti di Pangandaran, Kiarapayung, dan Sumedang.”
Terkait kontribusi kampus terhadap program berdampak luas, Ismet menjelaskan bahwa secara informal ISBI telah lama mengimplementasikannya melalui kegiatan harian, perkuliahan, KKN, hingga pengabdian kepada masyarakat. Secara formal, lembaganya juga terus mendorong kapasitas mahasiswa agar mampu memperluas wawasan hingga tingkat internasional.
“Banyak lulusan kami yang kini telah berekspansi untuk melanjutkan studi ke luar negeri, meskipun modal dasar kultural mereka tetap bersumber dari seni Jawa Barat.”

Pesan Kesinambungan dan Capaian Strategis Mantan Rektor
Sementara itu, mantan Rektor ISBI Bandung, Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum., menyambut baik proses regenerasi kepemimpinan yang berjalan dengan sehat. Ia berpesan agar kepemimpinan yang baru tetap merawat program kerja yang telah dirintis sebelumnya.
“Sejak awal saya meminta kepada semua kandidat untuk meneruskan program yang sudah berjalan, agar tidak berhenti begitu saja setiap kali periode kepemimpinan berganti. Jika program ini berjalan secara berkesinambungan, perkembangan ISBI akan terlihat jauh lebih pesat.”
Retno juga menitipkan pesan khusus agar ke depan ISBI Bandung menghadirkan sistem informasi terpadu satu pintu demi memperkuat rekognisi institusional para sivitas akademika.
“Hal utama yang saya inginkan adalah sistem informasi satu pintu. Jadi, ketika publik mencari apa pun tentang ISBI—baik profil maupun informasi dosen—semuanya dapat diakses dengan mudah dalam satu klik. Rekognisi ini sangat penting, karena secara individu sivitas akademika kita sangat luar biasa, namun secara institusional kita harus semakin memperkuat identitas kelembagaan.”
Ia juga menegaskan bahwa seluruh sivitas akademika harus terus merawat ekosistem kebudayaan agar ISBI mampu menjadi motor penggerak peradaban seni di tingkat regional, Nusantara, hingga dunia. Di penghujung masa jabatannya, Retno turut mengungkapkan rasa syukur atas dua pencapaian membanggakan bagi institusi.
“Dua hal yang membuat saya paling bersyukur adalah keberhasilan mendapatkan anggaran belanja modal PTN-BH sebesar 20 miliar rupiah setelah 12 tahun menanti, sehingga sarana dan prasarana bisa diselesaikan. Yang kedua, perjuangan panjang kami membuahkan hasil di penghujung jabatan, di mana pada 23 Agustus lalu kita resmi mendapatkan hibah tanah seluas 30 hektare di Pangandaran.”


Komentar