FWPJABAR.COM, BANDUNG — Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya posisi mahasiswa sebagai mitra strategis sekaligus pengoreksi kebijakan pemerintah. Menurutnya, pandangan kritis yang bersumber dari kajian objektif dan kepekaan sosial sangat dibutuhkan guna menyempurnakan arah pembangunan kota.
Pernyataan tersebut disampaikan Farhan dalam momentum pelantikan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Korps HMI-Wati (KOHATI), serta Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Bandung untuk Masa Bakti 2026–2027. Acara khidmat ini dihelat di Pendopo Kota Bandung pada Jumat, 31 Juli 2026.
Di hadapan para kader yang hadir, Farhan menyampaikan ucapan selamat serta harapan besar agar kepengurusan baru mampu merawat marwah tradisi intelektual HMI serta memberikan andil nyata bagi kemajuan Kota Kembang.
“Saya mengucapkan selamat kepada seluruh ketua dan pengurus HMI Cabang Bandung, KOHATI, dan BPL. Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan baik dan membawa manfaat bagi masyarakat,” ucap Farhan.
Ia menggarisbawahi bahwa roda pemerintahan tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa kontrol yang seimbang. Kehadiran organisasi kepemudaan seperti HMI dipandang krusial untuk mengisi ruang-ruang evaluasi dan memberikan masukan konstruktif.
Baginya, setiap kebijakan publik secara alamiah memiliki celah (blind spot) yang kerap baru terdeteksi tatkala diimplementasikan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, suara kritis dari kalangan kampus dan organisasi mahasiswa menjadi instrumen penyeimbang yang vital.
“Dengan mendengarkan suara kritis mahasiswa, pemerintah memiliki alat untuk menguji apakah kebijakan yang dibuat benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Tidak ada kebijakan yang sempurna, pasti ada ruang yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

Tantangan Kompleks Kota Bandung: Ekonomi, Lingkungan, hingga Fiskal
Dalam forum yang sama, Farhan memaparkan sejumlah pekerjaan rumah (PR) besar yang tengah dihadapi Pemkot Bandung. Meskipun indikator pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita tercatat cukup tinggi mendekati angka 10.000 dolar Amerika Serikat, tantangan kesenjangan masih membayangi. Angka pengangguran daerah masih di kisaran 7,2 persen, sementara rasio ketimpangan (gini ratio) berada pada level 0,42. Target pemerintah adalah menekan angka tersebut mendekati rata-rata nasional di level 0,36.
Persoalan ekologis juga menjadi sorotan serius. Berdasarkan data validasi Laci RW bersama Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari seperempat total hunian di Kota Bandung belum memiliki instalasi pengolahan limbah yang memadai, sehingga pembuangan limbah domestik kerap langsung mengalir ke badan sungai. Kondisi ini memperberat tekanan terhadap kualitas sumber air baku, di mana cakupan layanan air bersih Perumda Tirta Wening saat ini baru menjangkau sekitar 38 persen warga.
Tidak hanya itu, pemerintah daerah turut bergelut dengan tantangan fiskal, mulai dari beban belanja pegawai yang tinggi, defisit sekitar 1.700 tenaga pendidik tingkat SD dan SMP, hingga persentase kepemilikan rumah warga yang masih di bawah 50 persen—mendorong pemkot untuk mengkaji solusi hunian vertikal.
Oleh sebab itu, Farhan mendorong para mahasiswa untuk membumikan gagasan mereka, turun langsung ke tengah masyarakat, dan merumuskan solusi berbasis data empiris.
“Saat menjadi mahasiswa adalah waktu terbaik untuk menguji ilmu yang dipelajari dengan kondisi nyata di masyarakat. Dengarkan, rasakan, dan pahami persoalan mereka agar solusi yang ditawarkan benar-benar relevan,” pesannya.
Komitmen HMI Cabang Bandung
Menanggapi arahan tersebut, Ketua Umum HMI Cabang Bandung Periode 2026–2027, Darlingga Prasetio, menyatakan kesiapan organisasinya untuk bertransformasi sebagai laboratorium pemikiran dan penyedia rekomendasi kebijakan bagi Pemkot Bandung. Ia menilai berbagai isu krusial seperti penanganan sampah, mitigasi banjir, optimalisasi penerangan jalan umum, hingga keamanan malam hari harus direspons melalui kajian ilmiah yang komprehensif.
“HMI hadir sebagai episentrum gerakan dan laboratorium ilmu sosial. Kami ingin menghadirkan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan Kota Bandung,” tegas Darlingga.
Sebagai persiapan jangka panjang, ia juga menyebutkan bahwa HMI Cabang Bandung bersiap memperkuat pengkaderan melalui agenda Training Raya yang dijadwalkan bergulir pada September 2026, demi mencetak generasi pemimpin berintegritas dan adaptif di masa depan.***


Komentar