FWP JABAR, KABUPATEN GARUT – Status sebagai Sekolah Manusia Unggul (Maung) membawa perubahan pada pola pembelajaran siswa kelas X SMAN 1 Garut. Mulai tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 384 siswa tidak hanya menjalani Kurikulum Nasional, tetapi juga mendapat pengayaan Cambridge, kurikulum spesialisasi, hingga program belajar tambahan setiap Sabtu.
SMAN 1 Garut menjadi satu dari 41 SMA dan SMK negeri yang ditunjuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjalankan Sekolah Maung. Program tersebut diterapkan di 28 SMA Negeri dan 13 SMK Negeri.
Di sekolah yang beralamat di Jalan Merdeka No 91, Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul tersebut, Sekolah Maung diberlakukan khusus bagi seluruh siswa kelas X. Sementara siswa kelas XI dan XII tetap mengikuti pola pembelajaran reguler.
Kepala SMAN 1 Garut, Dra. Sri Mulyani, M.Pd., memastikan implementasi program telah berjalan mengacu pada petunjuk teknis yang ditetapkan.
“Alhamdulillah, sudah berjalan sebagaimana mestinya, sesuai dengan juknisnya, bahwa struktur kurikulum untuk Sekolah Maung itu sudah dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknisnya,” kata Sri Mulyani kepada majalahsora.com, perwakilan Forum Wartawan Pendidikan Jabar, Senin (3/8/2026).
Sebelum program dimulai, jajaran sekolah telah mengikuti bimbingan teknis Sekolah Maung tingkat Provinsi Jawa Barat. Bimtek tersebut menjadi bekal bagi sekolah dalam memahami tata kelola hingga teknis pembelajaran.
“Kami sebelumnya kan sudah bimtek dengan Sekolah-Sekolah Maung di Provinsi Jawa Barat. Waktu itu, di Radjiman (Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat). Sudah diberikan petunjuk bagaimana seharusnya Sekolah Maung dikelola, terutama untuk menjalankan pembelajaran Sekolah Maung,” ujarnya.
Salah satu pembeda utama Sekolah Maung di SMAN 1 Garut terletak pada struktur pembelajarannya. Siswa kelas X menjalani tiga lapis atau layer kurikulum yang saling terintegrasi.
Lapisan pertama memasukkan kurikulum internasional melalui Cambridge. Lapisan kedua menggunakan Kurikulum Nasional dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Sedangkan lapisan ketiga merupakan kurikulum spesialisasi yang turut mengintegrasikan nilai-nilai Pancawaluya: cageur, bageur, bener, pinter tur singer.
Namun, penerapan Cambridge bukan berarti seluruh mata pelajaran di SMAN 1 Garut diganti menggunakan kurikulum internasional.
Sri menjelaskan, mata pelajaran tetap mengacu pada Kurikulum Nasional. Cambridge ditempatkan sebagai pengayaan melalui penambahan substansi dan materi tertentu yang relevan dengan kebutuhan Sekolah Maung.
“Kalau mata pelajaran sama saja, kami mengambil seperti Kurikulum Nasional, tetapi Kurikulum Cambridge itu hanya pengembangannya. Jadi ada substansi, materi-materi khusus yang ditambah, yang sesuai dengan Kurikulum Maung,” tuturnya.
Konsekuensi lain dari penerapan Sekolah Maung adalah bertambahnya durasi kegiatan siswa.
Pembelajaran dimulai pukul 06.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 15.45 WIB. Bahkan, aktivitas akademik kelas X berlanjut pada akhir pekan melalui Saturday Programming.
Setiap Sabtu, mulai pukul 07.30 hingga 11.30 WIB, seluruh siswa kelas X wajib mengikuti program tersebut.
Saturday Programming diarahkan sebagai ruang pengayaan dan pengembangan kemampuan siswa. Materinya antara lain mencakup persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA), pengembangan potensi sesuai minat, hingga pembinaan siswa yang diarahkan menuju Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Program Sabtu tersebut hanya diberlakukan bagi siswa kelas X yang mengikuti Sekolah Maung. Siswa kelas XI dan XII tidak diwajibkan mengikutinya.
Perubahan tidak hanya berlaku bagi siswa. SMAN 1 Garut juga menerapkan mekanisme khusus untuk menentukan guru yang mengajar di kelas Maung.
Sekolah melakukan asesmen internal dengan mempertimbangkan kompetensi, integritas, serta loyalitas guru terhadap pelaksanaan program. Dengan mekanisme tersebut, tidak seluruh guru secara otomatis mendapatkan penugasan di kelas Maung.
Persiapan juga dilakukan melalui bimtek dan workshop bagi guru mata pelajaran.
Dalam proses tersebut, sekolah menghadirkan Profesor Isma, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang turut terlibat dalam pengembangan Kurikulum Sekolah Maung. Profesor Isma diketahui merupakan alumni SMAN 1 Garut.
“Jadi Guru mata pelajaran pada waktu itu mengikuti bimtek atau workshop, di mana dibimbing oleh Profesor Isma dari UPI. Pengembang Kurikulum Sekolah Maung juga, diundang oleh kami. Kebetulan beliau itu adalah alumni sekolah kami,” kata Sri.
Pada tahun pertama implementasinya, Sekolah Maung di SMAN 1 Garut diikuti 384 siswa kelas X.
Mereka ditempatkan dalam 12 rombongan belajar dengan jumlah maksimal 32 siswa pada setiap kelas.
Menurut Sri, batas tersebut harus dipatuhi karena telah ditetapkan melalui petunjuk teknis dan Keputusan Gubernur (KEPGUB).
Ia mengakui tetap ada pihak yang berupaya agar siswa tertentu dapat diterima. Namun sekolah memilih bertahan pada ketentuan yang berlaku.
“Yang memaksakan mah ada saja. Tapi kami memegang teguh PERGUB,” tegas Sri.
Menurutnya, mekanisme penerimaan hingga jumlah maksimal siswa dalam satu kelas telah diatur secara jelas.
“Sistemnya sudah jelas untuk teknis, kemudian juga aturannya tertuang dalam juknis sesuai dengan KEPGUB, harus 32. Meskipun dengan berbagai tekanan, tapi mereka (oknum) harus paham,” tegasnya.
Di balik perubahan pola pembelajaran tersebut, SMAN 1 Garut memasang target tinggi. Sekolah ingin siswa tidak hanya unggul dalam capaian akademik, tetapi juga nonakademik dan karakter.
Sri mengatakan arah tersebut sejalan dengan tujuan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi dalam menggagas Sekolah Maung sebagai wadah bagi siswa unggul dan berprestasi.
“Harapannya tentu sesuai dengan tujuan Pak KDM (Kang Dedi Mulyadi Gubernur Jabar) membangun Sekolah Maung, ya. Tujuannya adalah untuk mewadahi siswa-siswa yang unggul. Siswa-siswa yang berprestasi,” katanya.
Menurut Sri, modal tersebut sudah dimiliki SMAN 1 Garut karena siswa yang masuk memiliki rekam prestasi, baik akademik maupun nonakademik.
“Tentunya kami Sekolah Maung bertujuan sama, mencetak siswa-siswa yang unggul bukan hanya di bidang akademik, tapi di non-akademik. Artinya siswa juga harus unggul di karakter, selain akademik,” jelasnya.
Ia optimistis program tersebut dapat semakin menguatkan tradisi prestasi SMAN 1 Garut.
“Ya mudah-mudahan berhasil. Insya Allah kalau melihat dari input siswanya, memang kami pede (percaya diri), percaya bahwa siswa yang di SMA 1 itu kan sebelum Maung juga, alhamdulillah, kami banyak mencetak prestasi. Apalagi ini siswanya siswa yang prestasi semua,” ujarnya.
Target lainnya adalah mendorong sebanyak mungkin lulusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri (PTN), bahkan sekolah membawa semangat menuju kelulusan 100 persen ke PTN.
Sri menegaskan sekolah akan berupaya maksimal mempersiapkan siswa, meski hasil akhirnya tetap ditentukan oleh proses masing-masing anak.
“Kami berikhtiar. Nanti akhirnya Allah yang menentukan. Tergantung proses anaknya juga. Kami kan berupaya semaksimal mungkin,” katanya.
Salah satu instrumen yang digunakan untuk mendukung target tersebut adalah Saturday Programming.
“Makanya ada program Saturday, salah satunya untuk mengembangkan kemampuan siswa, sesuai dengan minatnya masing-masing,” ujarnya.
Di tengah berjalannya program, SMAN 1 Garut juga menyiapkan sosialisasi kepada orang tua agar memiliki pemahaman yang sama mengenai pola pembelajaran Sekolah Maung.
Namun sekolah cenderung memilih mekanisme daring melalui Zoom dibandingkan pertemuan tatap muka.
Sebelumnya, sosialisasi terkait pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) juga dilakukan menggunakan Zoom.
Menurut Sri, kehati-hatian diperlukan agar pertemuan sekolah dan orang tua tidak menimbulkan persepsi lain ataupun dimanfaatkan pihak tertentu di luar tujuan pendidikan.
Karena itu, sosialisasi khusus mengenai Sekolah Maung direncanakan berlangsung secara daring dalam satu hingga dua minggu ke depan.
Hingga awal pelaksanaan tahun ajaran 2026/2027, Sri memastikan tidak ada siswa kelas X yang mengundurkan diri dari program Sekolah Maung.
Dengan 384 siswa, tiga lapis kurikulum, guru yang dipilih melalui asesmen, jam belajar hingga sore, serta kewajiban mengikuti Saturday Programming, SMAN 1 Garut kini memasuki pola pembelajaran baru.
Tantangannya bukan sekadar menjalankan label Sekolah Maung, melainkan membuktikan apakah model pembelajaran tersebut mampu menghasilkan siswa yang unggul secara akademik, berprestasi di bidang nonakademik, berkarakter, serta mampu bersaing menuju perguruan tinggi negeri.***


Komentar