FWPJABAR.COM, BANDUNG — Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Darat (Kodiklatad) bergerak cepat memperbarui strategi tempur demi menghadapi dinamika lanskap keamanan global. Komandan Kodiklatad (Dankodiklatad) Letjen TNI Dr. Mohamad Hasan, S.H., M.H., secara resmi menerima paparan terkait Penyusunan Pedoman Peran Kecabangan dan Fungsi TNI AD dalam Operasi Gerilya Modern di Ruang Rapat Ganesha Kodiklatad, Bandung, pada Senin (15/6/2026).
Selain regulasi gerilya, pertemuan strategis tersebut juga membahas penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Latihan Tactical Floor Game (TFG) Dinamika Simulasi Tempur (Simpur) Tahun Anggaran 2026.
Agenda krusial ini dihadiri oleh jajaran petinggi militer, di antaranya Ir Kodiklatad, Wair Kodiklatad, para Direktur Kodiklatad, perwakilan pejabat Komando Utama (Kotama) dan Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) TNI AD, serta Tim Pokja (Kelompok Kerja).
Penyesuaian Doktrin dengan Peperangan Modern
Penyusunan pedoman baru ini bertujuan untuk memetakan sekaligus mengintegrasikan peran setiap kecabangan dan fungsi di tubuh TNI AD secara spesifik dalam skenario operasi gerilya. Langkah ini dibarengi dengan standardisasi simulasi TFG, yang selama ini menjadi instrumen vital bagi para perwira dalam mensimulasikan taktik lapangan dan mengambil keputusan militer secara cepat dan akurat.
Dalam arahannya, Dankodiklatad Letjen TNI Mohamad Hasan menegaskan bahwa pembaruan doktrin gerilya dan mekanisme latihan TFG merupakan langkah mendesak. Transformasi ini diperlukan agar seluruh taktik konvensional TNI AD dapat beradaptasi dengan lompatan teknologi dan konsep peperangan modern terkini.
“Kita memerlukan rumusan komprehensif yang adaptif terhadap zaman. Hasil dari penyusunan ini nantinya akan menjadi pedoman baku bagi seluruh jajaran TNI AD dalam memperkuat pertahanan wilayah sekaligus menyokong sistem pertahanan rakyat semesta (perang semesta),” ujar Letjen TNI Mohamad Hasan.

Fondasi Operasional dan Latihan Satuan
Melalui finalisasi paparan pokja ini, Kodiklatad berkomitmen melahirkan cetak biru doktrin dan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) yang solid. Output dari regulasi ini diproyeksikan menjadi kiblat operasional bagi seluruh satuan Angkatan Darat di Indonesia.
Dengan dokumen pedoman yang diperbarui, integrasi antar-kecabangan—mulai dari infanteri, kavaleri, artileri, hingga satuan pendukung—diharapkan dapat berjalan lebih sinkron saat menggelar operasi gerilya maupun dalam pelaksanaan latihan taktis di masa mendatang.***


Komentar