SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Motivasi
Beranda / Motivasi / Bedah Hadis di Kajian Bulanan MT Al Jabbar 86, Ustaz Abu Haidar Ingatkan Pentingnya Ilmu Agama

Bedah Hadis di Kajian Bulanan MT Al Jabbar 86, Ustaz Abu Haidar Ingatkan Pentingnya Ilmu Agama

Ustaz Abu Haidar Kajian Bulanan Mt Al Jabbar 86
Suasana Kajian Bulanan MT Al Jabbar 86 di kediaman ketua umum MT Al Jabbar 86 Dr. Andri Wilman di Dago Bandung.

FWPJABAR.COM, BANDUNG — Di tengah kesibukan aktivitas duniawi dan dinamika bisnis perkotaan, kesadaran untuk membekali diri dengan ilmu agama menjadi kebutuhan yang krusial. Hal inilah yang mendasari Majelis Ta’lim (MT) Al Jabbar 86 menggelar kajian bulanan keilmuan intensif bersama para santri binaan di Kota Bandung.

Hadir sebagai pengisi materi, Ustadz Abu Haidar As-Sundawy memaparkan secara mendalam mengenai urgensi menuntut ilmu syar’i sebagai fondasi utama kehidupan seorang muslim.

Transformasi Digital dari Wilayah: Sukaraja Rilis Dua Aplikasi untuk Benahi Data Penduduk dan Transparansi Proyek

Ustaz Abu Haidar Kajian Bulanan Mt Al Jabbar 86 7
Ustadz Abu Haidar As-Sundawy saat membedah hadis pentingnya ilmu agama di Kajian Bulanan MT Al Jabbar 86 Bandung.

Ilmu sebagai Pangkal Ketaqwaan dan Obat Penyakit Kebodohan

Mengawali tausiyahnya dengan salam, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, Ustadz Abu Haidar As-Sundawy langsung menyitir hadis populer mengenai kewajiban setiap muslim dalam menuntut ilmu, yaitu:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Jelang Idul Adha 1447 H, MT Al Jabbar 86 Salurkan Santunan Rutin dan Hewan Kurban untuk Santri Binaan

(Tholabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim)

Kata Nabi SAW, mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Beliau menegaskan mengapa mencari ilmu itu hukumnya wajib, karena ilmu merupakan pokok pangkal dari lahirnya ketaqwaan.

Cahaya Al-Qur’an dan Asa Pendidikan: Catatan dari Majelis Taklim Al-Jabbar 86

Dalam hal ini, Ustadz Abu Haidar mengutip perkataan dari ulama besar, Imam Sufyan al-Thawri:

لَا يُتَعَلَّمُ الْعِلْمُ إِلَّا لِيُتَّقَى اللهُ بِهِ

MT Al-Jabar 86 Hidupkan Malam Ganjil Ramadan: Dari Belanja Baju Lebaran Hingga Visi Cetak Pemimpin Berbasis Akhlak

(La yuta’allamul ilmu illa liutaqallahu bihi)

“Artinya, ilmu tidaklah dicari kecuali untuk menjadikan orang bertaqwa kepada Allah,” jelas Ustaz Abu Haidar.

Aldini Lulusan ISBI Bandung Berprestasi, dari Festival Musik ASEAN-China hingga Gelar Cum Laude

Tidak hanya itu, beliau juga menambahkan pesan mendalam dari sahabat Nabi, Abu Darda RA, yang berbunyi:

لَا تَكُوْنُ تَقِيًّا حَتَّى تَكُوْنَ عَالِمًا

(La takunu taqiyyan hatta takuna ‘aliman)

“Kamu tidak akan bisa menjadi orang bertaqwa sebelum kamu berilmu. Jadi, ilmu itu adalah pokok pangkal lahirnya keimanan dan ketaqwaan,” urai Ustaz Abu Haidar. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dari keimanan dan ketaqwaan itulah akan melahirkan ibadah yang berkualitas, lalu membuahkan kemuliaan akhlak yang sangat terasa dalam bermuamalah dengan sesama manusia.

Ustaz Abu Haidar Kajian Bulanan Mt Al Jabbar 86 6
Penyerahan secara simbolis Paket sembako bulanan untuk para santri binaan dari member MT Al Jabbar Kepada Perwakilan Pondok Pesantren Binaan.

Kebodohan Agama Adalah Penyakit

Dari penjabaran tersebut, Ustadz Abu Haidar mengajak jemaah untuk mengerti betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan. Jika seseorang tidak memiliki ilmu, maka kebodohan akan menjadi penyebab dari semua bentuk keburukan. Beliau menekankan bahwa tidaklah orang berbuat syirik, berbuat kufur, berbuat bid’ah, maupun berbuat maksiat, kecuali dipicu oleh kebodohan dan ketidaktahuan mereka.

Ustadz Abu Haidar menegaskan bahwa kebodohan adalah sebuah penyakit. Hal ini bersandar pada sabda Nabi SAW:

إِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ

(Innamis syifa-ul ‘iyyi as-su’al)

“Sesungguhnya obat bagi kebodohan adalah bertanya. Kalau beliau (Nabi SAW) menyebut obat bagi kebodohan adalah bertanya, maka ini menunjukkan kebodohan itu adalah penyakit,” terangnya.

Beliau meluruskan bahwa yang dimaksud ilmu dan bodoh di sini adalah spesifik tentang ilmu agama dan bodoh tentang agama. Orang yang bodoh tentang agama akan menjadi lalai dari tujuan utama hidupnya.

“Untuk apa dia diciptakan, untuk apa dia hidup di alam dunia, dia lalai dari hal itu. Sehingga dia hanya mengejar dunia dan kesenangannya, lalu lupa bahwa akhirat adalah tempat kembali dia nanti,” tutur Ustaz Abu Haidar. Di akhir materinya, beliau memberikan ajakan kuat, “Jadi yuk pelajari ilmu, jangan biarkan diri kita bodoh tentang ilmu. Karena kebodohan adalah pokok pangkal semua keburukan.”

Ustaz Abu Haidar Kajian Bulanan Mt Al Jabbar 86 2
Fiqie Fadjar, salah satu anggota majelis, mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, majelis ini banyak mengajak kami ke arah kebaikan.

Wadah Hijrah dan Pengingat Kebaikan Para Pengusaha Muda

Kajian yang digelar oleh MT Al Jabbar 86 ini rupanya menjadi oase spiritual tersendiri, terutama bagi anggotanya yang mayoritas merupakan para pengusaha muda di Kota Bandung. Di tengah padatnya jadwal bisnis, majelis ini menjadi tempat untuk “merem” sejenak dari urusan duniawi.

Fiqie Fadjar, salah satu member MT Al Jabbar 86, mengungkapkan rasa syukurnya dapat bergabung dalam lingkaran kebaikan ini. Menurutnya, majelis taklim ini memberikan banyak keberkahan dan selalu mengingatkannya untuk tetap tunduk di bawah kuasa Tuhan.

“Alhamdulillah, majelis ini banyak mengajak kami ke arah kebaikan. Jadi, saat kami sibuk dengan kerjaan, di sini selalu mengingatkan. Di majelis ini kita diajarkan untuk saling berbagi dan bermanfaat bagi sesama manusia tanpa ada batasan kalangan. Semua saling bantu-membantu,” ujar Fiqie.

Ustaz Abu Haidar Kajian Bulanan Mt Al Jabbar 86 1
Manfaat nyata juga dirasakan oleh anggota lainnya, Cindya Rizma Anindita dan Windy Resmisari. Bagi mereka, atmosfer positif dan pemahaman sunnah yang diajarkan.

Menabung Bekal Akhirat dan Konsisten dalam Sunnah

Manfaat nyata dari kajian keagamaan ini juga dirasakan kuat oleh member lainnya, Cindya Rizma Anindita dan Windy Resmisari. Bagi mereka, materi yang disampaikan dalam kajian selalu memiliki korelasi erat dengan problematika kehidupan sehari-hari.

“Terkait kajian ilmu agamanya, banyak sekali manfaatnya. Kami sekaligus mencari pelajaran hidup di majelis taklim ini. Apalagi di sini pengajiannya sudah di atas pemahaman sunnah, lingkungannya baik, dan para penyelenggara seperti Dr. Andri Wilman serta Ibu Yuni sangat mengayomi dan mendukung progres kami dalam belajar agama,” kata Cindya.

Di sisi lain, Windy Resmisari menambahkan bahwa atmosfer positif di MT Al Jabbar 86 secara perlahan mengubah kebiasaan para anggotanya, salah satunya menjadi lebih rutin bersedekah karena melihat contoh nyata dari anggota lainnya. Bagi mereka, bertambahnya usia menjadi momentum yang tepat untuk semakin memperdalam ilmu agama demi kehidupan yang lebih optimal, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

“Seiring dengan usia, mungkin memang sudah waktunya kita mulai memperdalam belajar agama. Supaya kita punya ilmu dan bekal yang lebih untuk di akhirat nanti, karena hidup itu bukan hanya di dunia,” pungkas Windy.

Ustaz Abu Haidar Kajian Bulanan Mt Al Jabbar 86 4
Photo bersama para member MT Al Jabbar 86 bersama para santri binaan.

Capaian Nyata Santri Binaan dan Agenda Sosial Bulanan

Ikhtiar menuntut ilmu di lingkungan majelis ini terbukti tidak sekadar menjadi wacana, melainkan telah membuahkan hasil dan prestasi yang sangat nyata. Di sela-sela kegiatan, diumumkan pencapaian luar biasa dari para santri binaan mereka. Tercatat sebanyak 6 orang santri dinyatakan lulus tasmi 30 juz, yang di antaranya merupakan lulusan program karantina intensif selama 1 tahun. Selain di bidang keagamaan, akselerasi pendidikan umum juga ditunjukkan dengan kelulusan 5 orang santri dalam ujian S1 serta 1 orang santri yang berhasil menembus jenjang program Magister (S2).

Atas segala kelancaran program keumatan tersebut, Dr. Andri Wilman selaku Ketua Umum MT Al Jabbar 86 menyampaikan apresiasi dan ungkapan syukur yang mendalam kepada seluruh jemaah:

“Atas nama keluarga besar MT Al Jabbar 86, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas partisipasi, kehadiran, dan doa restunya di setiap kegiatan. Salah satunya telah lulus 6 orang santri tasmi 30 juz di antaranya program 1 tahun karantina, 1 orang masuk program S2, dan 5 orang lolos ujian S1. Sebagai ikhtiar menuntut ilmu persiapan menjalani kehidupan dunia dan akhiratnya. Jazakumullahu khairan katsiran,” ungkap Dr. Andri Wilman.

Sebagai wujud kepedulian sosial dan penerapan nyata dari ilmu kemanfaatan yang dipelajari, seluruh rangkaian kegiatan ini diakhiri dengan agenda penyerahan bantuan sembako rutin bulanan. Paket bantuan tersebut didistribusikan secara berkala bagi para santri binaan MT Al Jabbar 86 yang berasal dari berbagai pondok pesantren, menutup majelis hari itu dengan penuh keberkahan dan kehangatan berbagi.

Melalui sinergi kajian ilmu bersama Ustaz Abu Haidar As-Sundawy serta aksi nyata kepedulian sosial, MT Al Jabbar 86 sukses membuktikan bahwa kesibukan duniawi dan kesuksesan usaha tidak boleh menjadi penghalang untuk tetap membumi, menuntut ilmu syar’i, dan menebar manfaat demi meraih keridaan-Nya.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Populer Bulan Ini

Pilihan Editor

×
×