FWPJABAR.COM, BANDUNG — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperketat regulasi manajemen lalu lintas dan pengamanan ruang publik di tengah melonjaknya agenda berskala besar. Langkah taktis ini diambil guna menyeimbangkan kenyamanan warga lokal dengan pesatnya pertumbuhan sektor sport tourism di Kota Kembang.
Kebijakan tersebut merespons berbagai dinamika serta keluhan masyarakat terkait kemacetan parah pasca-berlangsungnya beberapa acara massal, seperti lomba lari Bandung 10K dan pawai perayaan kemenangan Persib Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa tingginya daya tarik kota terhadap penyelenggaraan acara memicu konsekuensi logis berupa kepadatan volume kendaraan, terutama karena keterbatasan geografis wilayah.
“Bandung terasa sempit karena yang datang sangat banyak. Ini konsekuensi dari tingginya minat terhadap event di kota ini,” kata Farhan saat memberikan keterangan pers di Hotel Aryaduta, Kota Bandung, Selasa (26/5/2026).
Farhan menilai munculnya pro dan kontra di tengah publik sebagai hal yang wajar. Menurutnya, setiap agenda—baik yang terjadwal seperti kompetisi olahraga maupun yang bersifat spontan seperti konvoi suporter—memiliki karakteristik risiko yang berbeda.
Meski memicu tantangan mobilitas, ia menegaskan roda perekonomian tetap bergerak positif. “Sepanjang bisa kita kendalikan dengan baik, semua event pada dasarnya memberikan manfaat,” ucapnya.
Batasi Durasi Blokade Jalan Maksimal Dua Jam
Sebagai bentuk langkah konkret mitigasi kemacetan, Pemkot Bandung bersama jajaran kepolisian menetapkan batas waktu operasional untuk setiap event di Bandung yang menggunakan fasilitas jalan raya.
Melalui standardisasi baru, penutupan jalur utama untuk kegiatan formal kini dibatasi paling lama dua jam. Selain itu, penyelenggara diwajibkan memastikan sisa kepadatan arus lalu lintas dapat terurai total dalam kurun waktu kurang dari satu jam pasca-acara.
Kendati demikian, Farhan mengakui manajemen penanganan untuk euforia massa seperti pendukung Persib memiliki tantangan tersendiri karena sering kali bergerak tanpa izin resmi atau perencanaan awal. Fokus utama pemerintah pada sektor ini bergeser ke arah pengamanan dan keselamatan jiwa.
“Yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar tidak terjadi kecelakaan. Namun jika insiden terjadi, yang paling penting adalah kecepatan respons dan penanganan,” tuturnya.

Optimalisasi Sport Tourism Bandung Secara Terpusat
Farhan menambahkan, Pemkot Bandung melirik potensi besar dari maraknya aktivitas olahraga berbasis massa ini. Sektor sport tourism Bandung dinilai menjadi instrumen efektif dalam mendongkrak promosi daerah serta menghidupkan ekosistem UMKM dan perhotelan.
“Baik event lari maupun euforia Persib, keduanya berada dalam kerangka sport tourism yang memberikan manfaat besar bagi kota,” ujarnya.
Guna meminimalkan dampak sosial di masa mendatang, Pemkot Bandung berkomitmen menyempurnakan tata kelola perizinan acara. Evaluasi ke depan akan diarahkan untuk mendorong implementasi agenda-agenda besar berskala regional maupun nasional agar diselenggarakan pada kawasan yang lebih terpusat.***


Komentar